Abstract :
Penelitian ini bertujuan medeskripsikan perbedaan kemampuan berpikir kreatif peserta didik antara yang belajar menggunakan model Quantum Learning dan yang belajar menggunakan model model konvensional. Jenis penelitian ini adalah eksperimen kuasi dengan desain penelitian one way pretest-posttest non-equivalent control group design. Populasi penelitian ini adalah 5 kelas (151 orang peserta didik) kelas XI MIPA SMA Negeri 2 Singaraja Tahun ajaran 2020/2021. Sampel penelitian adalah 2 kelas (54 siswa) yang diambil dengan teknik random assignment. Peserta didik yang terpilih sebagai kelompok eksperimen adalah XI MIPA 3 dan kelompok kontrol XI MIPA 4. Data kemampuan berpikir kreatif dikumpulkan dengan tes kemampuan berpikir kreatif sebanyak 15 butir berbentuk esai dengan materi gelombang bunyi dan cahaya. Data dianalisis dengan analisis deskriptif dan analisis kovarian (ANAKOVA) satu jalur. Pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan kemampuan berpikir kreatif peserta didik antara yang belajar dengan model Quantum Learning dan yang belajar dengan model konvensional (F*= 30,437 dengan angka signifikansi 0,001). Kemampuan berpikir kreatif peserta didik yang belajar menggunakan model Quantum Learning (M = 77,71; SD = 10,95 pada kategori baik) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan yang belajar dengan model konvensional (M = 63,70; SD = 14,45 pada kategori cukup). Implikasinya, bahwa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik pada pembelajaran fisika di SMA akan lebih baik jika menggunakan model Quantum Learning.
Kata kunci: quantum-learning, konvensional kemampuan berpikir kreatif, pembelajaran fisika