Abstract :
Kain tenun NTT adalah warisan budaya bernilai tinggi yang terancam karena
kurangnya pemahaman. Generasi Z mengadaptasinya dengan gaya modern,
didorong oleh media sosial dan brand ambassador. Tren fashion dan gaya hidup
meningkatkan apresiasi, tetapi pembelian tetap dipengaruhi oleh preferensi dan
ekonomi.
Teori yang digunakan yaitu VALS (Value and Lifestyle) yang pertama kali
diperkenalkan oleh Arnold Mitchell pada tahun 1987. Mitchell, seorang peneliti
dari perusahaan riset internasional SRI (Stanford Research International),
merancang VALS untuk membantu perusahaan memahami konsumen mereka
dengan lebih baik.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif, paradigma
positivistik, metode survei, dan penelitian bersifat eksplanatif. Pengumpulan data
dengan purposive sampling menggunakan populasi pengikut atau follower
Instagram sebanyak 28.200 (28,2 ribu) Followers dan sampelnya 99 orang.
Penelitian ini membahas pengaruh kepercayaan terhadap Brand Ambassador
memengaruhi gaya hidup Gen Z dalam menggunakan kain adat. Bryan Domani
berpengaruh positif dan signifikan, sementara Prilly Latuconsina tidak.
Efektivitasnya ditentukan oleh kredibilitas, daya tarik, dan keterlibatan emosional,
bukan sekadar popularitas.