Abstract :
Talas (Colacosia esculenta L. Schott) berpotensi digunakan sebagai bahan
baku dalam pembuatan edible film karena mengandung pati yang cukup tinggi yaitu
80% dengan kadar amilosa sebesar 21.44% dan kadar amilopektin sebesar 78.56%.
Konsentrasi pati yang digunakan yaitu 3% (b/v) dengan suhu pemanasan yaitu 85 oC
selama 15 menit. Kandungan amilosa pada pati dapat menghasilkan edible film yang
kuat, akan tetapi bersifat rapuh. Untuk memperbaiki sifat rapuh pada edible film
dilakukan penambahan plasticizer yaitu gliserol dengan konsentrasi 20%, 30% dan
40% (v/v). Penambahan variasi gliserol ini untuk mengetahui konsentrasi optimum
dari edible film yang dihasilkan. Edible film yang dihasilkan diuji karakteristik
fisiknya meliputi uji ketebalan, kuat tarik, persen pemanjangan dan kelarutan. Edible
film diaplikasikan sebagai pengemas makanan pada dodol dan diuji menggunakan uji
hedonik. Untuk membantu mengetahui data yang diperoleh berpengaruh secara nyata
atau tidak, dilakukan analisis menggunakan SPSS (Statistical Package for Social
Science) versi 21.0 metode One-Way ANOVA. Hasil penelitian yang diperoleh untuk
nilai ketebalan dengan penambahan konsentrasi gliserol 20%, 30% dan 40% (v/v)
yaitu 0.063, 0.065 dan 0.076 mm. Nilai kuat tarik yang diperoleh untuk konsentrasi
gliserol 20%, 30% dan 40% (v/v) yaitu 0.39, 0.48 dan 0.69 (N/mm2). Nilai
perpanjangan untuk konsentrasi gliserol 20%, 30% dan 40% (v/v) yaitu 3.31, 7.22
dan 11.01%. Nilai kelarutan untuk konsentrasi gliserol 20%, 30% dan 40% (v/v)
yaitu 16.95, 17.02 dan 17.23%. Uji kesukaan yang dilakukan pada 30 orang
mahasiswa menunjukkan bahwa konsumen menyukai dodol yang dikemas
menggunakan edible film dengan konsentrasi gliserol 30%, baik dari segi warna,
aroma, rasa dan kekenyalan. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam yang diperoleh,
penambahan konsentrasi gliserol 20%, 30% dan 40% (v/v) berpengaruh secara nyata
terhadap ketebalan dan perpanjangan edible film