Institusion
Universitas Islam Negeri Alauddin
Author
Subject
2X6.7 Kesenian Islam, Kebudayaan Islam, Seni Islam, Budaya Islam
Datestamp
2017-06-16 03:05:43
Abstract :
Skripsi ini adalah studi tentang tradisi Mappatamma’ mangaji pada
masyarakat di desa Lapeo Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar.
Pokok permasalahan adalah yaitu: Bagaimana sejarah awal tradisi Mappatamma’ ?,
Bagaimana tata cara pelaksanaan tradisi Mappatamma’ mangaji pada masyarakat di
desa Lapeo Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar ?, dan apa makna
simbolis dari tradisi Mappatamma’ mangaji pada masyarakat di desa Lapeo
Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar ?.
Oleh karena jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan atau Field Researct
maka peneliti menggunakan metode yang bersifat deskriptif-kualitatif dalam
menggungkapkan fakta tentang tradisi mappatamma’ mangaji pada masyarakat di
desa Lapeo Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar. Untuk
menganalisis fakta tersebut peneliti menggunakan pendekatan sejarah, sosiologi,
antropologi, dan agama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa munculnya mappatamma’ di daerah ini
bermula pada masa masa puang I Joleng yang menjadi kadi pertama di kerajaan
Balanipa Mandar sekitar abad ke XVII M. Tradisi ini awalnya dirayakan bertepatan
dengan maulid Nabi Muhammad Saw yaitu pada tanggal 12 rabiul awal dan
perayaannya bisa dilakukan di masjid maupun di rumah masing-masing. Seiring
berjalannya waktu, perayaan ini bisa dilaksanakan kapanpun. Tergantung kepada
kesiapan masyarakat khususnya bagi mereka yang telah menamatkan Al-Qurannya
(anak yang khatam Al-Quran).
Tujuan dari perayaan ini adalah untuk memberikan motivasi dan spirit kepada
generasi muda untuk senantiasa mengamalkan dan mempelajari ayat ayat suci AlQuran dan menjadi salah satu implementasi bentuk syiar Islam pada zaman kerajaan.
Mappatamma` bentuk apresiasi budaya masyarakat Mandar yang tinggi terhadap
nilai-nilai ke-Islaman dan cermin betapa masyarakat kita arif dan santun
mempertemukan dengan apik antara agama dan tradisi.
Pearayaan ini berlangsung pada pagi hingga sore hari. Malam sebelumnya,
rumah-rumah warga, yang putranya mengikuti acara khatam, sudah diramaikan suara
orang-orang yang membacakan ayat-ayat suci Al Quran, lagu-lagu kasidah, dan
tetabuhan rebana. Alunan syahdu itu terdengar sejak waktu shalat isya hingga
menjelang pagi.