Abstract :
Skripsi ini membahas tentang perceraian dan implikasinya terhadap psikologis anak di kecamatan lalabata kabupaten soppeng. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah dampak perceraian terhadap psikologis anak serta upaya mengatasi dampak perceraian pada anak di kecamatan lalabata kabupaten soppeng. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif dengan pendekatan yuridi serta melalui informan (masyarakat kecamatan lalabata dan tokoh masyarakat setempat ), selanjutnya metode pengumpulan data yang digunakan
adalah wawancara, dan dokumentasi mengenai perceraian dan implikasinya terhadap psikologis anak di kecamatan lalabata kabupaten soppeng. Lalu teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian dan implikasinya terhadap psikologis anak begitu banyak dampaknya terhadap perkembangan psikologis anak seperti anak tersebut memiliki rasa malu , ia malu karna orang tuanya bercerai ia tak bisa seperti anak-anak lain yang masih utuh
orang tuanya dan ia merasa dalam pergaulan sehari-harinya pun merasa orang-orang di sekitarnya mengejek ia .anak pun merasaka kesedihan yang begitu mendalam di karenakan mereka merasa kehilangan kehangatan kasih sayang orang tua yang lengkap. Serta anak pun berubah menjadi pendiam disebabkan dia jarang bergaul dengan teman-temannya karena dia merasa malu akan keadaan keluarganya, setiap ada kegiatan ia lebih memilih berdiam diri di rumah dan selalu melamun.serta anak bias membenci salah satu orangtua mereka. Adapun upaya mengatasi dampak perceraian pada anak seperti orangtua tidak
mengungkapkan hal-hal buruk tentang mantan pasangan, tidak saling mengkritik atau menjelekkan salah satu mantan pasangannya di depan anak, tetap mengasuh anak bersama-sama dengan menyampingkan perselisihan, berusaha mengenali
teman-teman dekat tempat anak biasa mengadu dan bercerita karena remaja lebih percaya perkataan temannya ketimbang orangtua yang dianggap bermasalah. Dampak lainnya seperti anak tidak mau sekolah, suka marah-marah, merasa
bersalah dan menyalahkan diri sendiri, suka memberontak tak mau terima kenyataan kalau orangtuanya telah bercerai
Implikasi dalam penelitian ini adalah : agar kiranya pemerintah dan masyarakat setempat khususnya lembaga yang terkait dapat member perlindungan terhadap anak-anak korban perceraian sehingga kedepannya mereka tidak merasa terkucilkan dalam masyarakat, dan tidak menjadi bahan ejekan teman-temannya serta memaksimalkan fungsi terutama melindungi hak asasi anak-anak antara lain perhatian dan kasih saying. Agama merupakan pondasi rumah tangga jadi setiap permasalahan yang terjadi sekiranya bias diselesaikan sesuai dengan ajaran agama tidak dengan perceraian karena dampak dari perceraian tersebut anaklah yang
akan jadi korban .