Abstract :
Hasil penelitian menunjukkan pemilihan dewan mahasiswa fakultas Ushuluddin gerakan politik lebih dominan jika dibandingkan dengan moral dan gerakan intelektual, kekuatan konsolidasi, kelihaian strategi serta dukungan dari organisasi eksternal yang menjadi tolak ukur pemilihan. Sedangkan publik figur yang berlandaskan pada kapasitas, akuntabilitas, integritas dan profesionalitas, tidak diperhatikan. Kesimpulan dan implikasi dari penelitian ini adalah penemuaan format baru gerakan mahasiswa (refolmulasi) menjadi solusi alternative penting dalam mengembalikan gerakan mahasiswa dengan berpijak pada gerakan moral dan gerakan intelektual yang berlandaskan pada program, isu, integritas, organisasi dan ledersip kepemimpinan. Dalam pemilihan dewan mahasiswa tidak hanya berpijak pada demokrasi yang prosedural namun juga harus mengedepankan demokrasi yang subtansial