Abstract :
Hasil penelitian ini adalah (1) pelaksanaan pilkada Luwu Timur tahun
2015 etnisitas tidak terlalu memainkan peranan penting karena sentimen etnis
pemilih relatif kecil. Pemilih bisa menerima kehadiran kepala daerah yang
berbeda dengan etnis di luar dirinya. Keadaan di lapangan ditemukan bahwa
dalam proses pilkada, masyarakat cenderung memilih melihat dari hasil kinerja
dari calon dan sosok figur calon. (2) Sosok Thoriq Husler dalam kesehariannya
yang hidup di tengah-tengah masyarakat multikultural memiliki rasa toleransi
dan simpatik yang tinggi kepada semua kalangan masyarakat. Sehingga beliau
dicintai dan diterima oleh semua kalangan etnis di Luwu Timur. Pada pilkada
tahun 2015, Thoriq Husler menyampaikan visi dan misi untuk menjadi calon
bupati. Ada beberapa program serta kebijakan yang hendak dilaksanakan yang
bertujuan untuk mempersatukan masyarakat multikultural di Luwu Timur.
Implikasi penelitian ini adalah (1) dalam konteks daerah yang
melaksanakan pemilihan kepala daerah, dimana daerah tersebut merupakan
daerah multi etnik maka pemerintah mempunyai peran besar untuk menjaga
stabilitas keamanan agar tidak terjadi konflik fisik di masyarakat. (2) Penulis
mengharapkan kepada setiap kandidat yang berpartisipasi dalam pemilihan
kepala daerah dapat menciptakan persaingan yang sehat antarkandidat dan
mengelola isu-isu secara etis dalam menjalankan pesta demokrasi. Pengelolaan
secara etis diperlukan, sebab dari beberapa riset yang berkembang
menunjukkan bahwa ada kecendrungan dimana kalangan elit politik
menggunakan sentiment etnis dalam meningkatkan dukungan politiknya.