Abstract :
Penelitian ini menemukan bahwa: pertama latar belakang munculnya
kalindaqdaq adalah adalah ‘pau-pau’ (pembicaraan) adanya percampuran budaya
melayu yang kemudian menjadikan kalindaqdaq memiliki rima dan tersusun
menyerupai pantun melayu. Entah melalui proses difusi, alkulturasi, atau asimilasi.
Kedua dalam pelaksanaan tradisi kalindaqdaq yaitu dilaksanakan oleh masyarakat
yang sedang mengadakan perkawinan atau acara-acara lainnya yang dianggap
penting. Dalam hal acara pesta perkawinan acara ini biasanya dilakukan oleh pihak
mempelai wanita, sebelum dilangsungkannya akad nikah terlebih dahulu, khatam
qur’an, di saat itulah orang yang sedang dikhatam diarak menuju rumah gurunya atau
ke tempat yang biasanya dilaksanakan acara kuda Pattu’du (Kuda Menari). Ketiga
wujud nilai-nilai Islam dalam tradisi kalindaqdaq yaitu membangkitkan rasa
Kesucian bagi masyarakat setempat, serta menjadi pegangan hidup dalam menetukan
sikap dan tingkah lakunya sehari-hari, meningkatkan kehidupan beragama Islam
masyarakat Mandar dalam mewujudkan ketahanan budaya, ketentraman dan
persatuan bangsa. Keempat makna dari simbol dalam tradisi kalindaqdaq yaitu
adanya kelompok rebana yang dijadikan sebagai simbol pemenuhan nazar, adanya
pakkalindaqdaq adalah orang yang bertugas membaca pantun dalam bahasa Mandar
sepanjang arak-arakan dilakukan sebagai simbol hiburan yang selalu disambut
penonton dengan sahutan, teriakan, celetukan, atau tepuk tangan, dan adanya
saeyyang pattu’du (kuda menari) yang juga menjadi simbol dalam tradisi
kalindaqdaq karena menunjukkan kebolehannya merangkai kata dan bahasa yang
berisi pesan-pesan agama dan memberikan nasehat di hadapan kuda.