DETAIL DOCUMENT
Pandangan Etika terhadap Perbedaan: Studi Kasus Tarekat Muhdi Akbar dalam Kehidupan Keberagamaan di Kabupaten Selayar
Total View This Week1
Institusion
Universitas Islam Negeri Alauddin
Author

Subject
2X5.3 Tarekat, Tarikat, Thariqat 
Datestamp
2017-05-05 03:22:37 
Abstract :
Muhdi Akbar atau biasa disebut Binangabenteng adalah tarekat yang berkembang di Kabupaten Selayar, pada awal Abad ke-20, didirikan oleh H. Abdul Gani. Tarekat tersebut memiliki ajaran tersendiri, berbeda dengan Islam mayoritas yang dianut masyarakat, terlebih saat Muhammadiyah tumbuh dan berkembang di Selayar. Ajaran tarekat menekankan kelebihan Nabi Isa a.s. dari pada Nabi Muhammad saw. Alasannya, Nabi Isa adalah Ruhullah. Keyakinan ini menjadikan Muhdi Akbar sasaran penginjilan pada zaman kolonialisme. Beberapa kali Gereja Protestan Hindia Belanda mengirim utusan ke Selayar untuk misi kristenisasi. Namun, akhirnya gereja Hindia Belanda menyadari bahwa ajaran tersebut berbeda dengan Kristiani, bahkan menurutnya ajaran ini adalah ajaran Islam yang mengabaikan syari’at. Muhdi Akbar yang lebih sukses di bagian Selatan Pulau Selayar dan ingin terlepas dari adat serta Islam tradisional mendapat perlawanan kuat dari bangsawan (opu) dan Muhammadiyah. Tantangan dari bangsawan lahir disebabkan ajaran Muhdi Akbar yang egalitarian. Muhammadiyah menilai Muhdi Akbar sebagai ajaran sesat. Mulai saat itu, konflik keagamaan berlangsung yang melibatkan Muhdi Akbar, Muhammadiyah, Ahlussunnah Waljama’ah dan keyakinan lain. Struktur organisasi Muhammadiyah yang lebih rapi dan program kerja yang lebih terencana menyebabkan Muhammadiyah memenangkan persaingan. Saat penjajahan Belanda, Muhdi Akbar banyak mendapat perlindungan, namun surut saat penjajahan Jepang, sebab yang terakhir ini melarang seluruh kegiatan keagamaan. Walaupun pemerintahan kolonial agak was-was dengan kegoncangan sosial politik yang diakibatkan oleh gerakan Muhdi Akbar, namun pemerintah kolonial, khususnya dalan pandangan keagamaan bersimpati kepada Muhdi Akbar. Zaman kemerdekaan dan setelahnya adalah masa-masa sulit bagi Muhdi Akbar, sebab Divisi Pendidikan Muhammadiyah telah melahirkan kader-kader terampil yang mengisi jabatan-jabatan di pemerintahan lokal dan segera mempengaruhi kebijakan pemerintahan terhadap Muhdi Akbar. Pendirian cabang Muhammdiyah dan ranting Aisyiah dan juga masjid-masjid di kampung-kampung basis Muhdi Akbar turut melemahkan tarekat ini. Muhdi Akbar tersisih dan banyak di antara mereka yang terpaksa memeluk agama Kristen atau tetap dalam keyakinan mereka, tetapi memiliki KTP atas nama agama Hindu. Mereka menganggap Muhammadiyah adalah musuh. Sebaliknya, Muhammadiyah dengan pengaruhnya yang berhasil meyakinkan pemerintah untuk membubarkan Muhdi Akbar, sehingga terbit pembubaran tarekat ini. Namun, secara diam-diam aktivitas pendukungnya tetap berlangsung. Penelitian ini menunjukkan bakwa konflik Muhdi Akbar dengan keyakinan lain sebetulnya dapat dihindari dengan cara membangun komunikasi dan dialog yang berdasar pada nilai-nilai etika, baik etika filsafat, adat budaya Sulawesi Selatan, maupun etika dalam Islam sendiri. Penelitian dilakukan melalui penelitian di lapangan dan penelitian pustaka. Pendekatan yang dipergunakan adalah pendekatan sejarah, sosiologi dan antropologi. 

Institution Info

Universitas Islam Negeri Alauddin