Institusion
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Author
Claris, Vegawati
Sri, Wahyuni
Marisa, Elsera
Subject
393 Death Customs/Adat Istiadat yang Berhubungan dengan Kematian
Datestamp
2021-12-08 02:23:54
Abstract :
Tradisi adalah keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun
benar-benar ada kini, belum dihancurkan, dirusak, dibuang atau dilupakan. Disini tradisi
hanya berarti warisan , apa yang benar-benar tersisa dari masa lalu.Desa Pengudang
merupakan sebagian dari Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan Provinsi Kepulauan
Riau. Pada umumnya masyarakat Desa Pengudang merupakan masyarakat pesisir, karena
letak Desa Pengudang yang berada pada pesisir pantai. Masyarakat Desa pengudang terdiri
dari berbagai macam suku, agama dan ras. Salah satunya yaitu suku Flores yang mayoritas
masyarakatnya memeluk agama Katolik. Masyarakat Flores Desa Pengudang memiliki
kebudayaan yang menjadi tradisi yang mereka warisi dari daerah asal mereka yaitu Nusa
Tenggara Timur. Salah satu tradisinya ialah tradisi sembahyang arwah. Tradisi sembahnyang
arwah merupakan tradisi mendoakan arwah orang yang telah meninggal dunia, dimana
masyarakat Flores Desa Pengudang melaksanakan tradisi ini pada hari pertama, kedua, ketiga
serta satu tahun memperingati arwah tersebut meninggal dunia. Dalam prosesi ini dilakukan
melalui dua ritual. Pertama, oleh ritual keagamaan dengan mengirimkan doa-doa secara
keagamaan. Kedua, secara ritual adat dengan menggunakan adat sesajen. Dalam
pelaksanaannya secara ritual keagamaan tidak ada pembagian peran antara laki-laki dan
perempuan,namun pada ritual adat terdapat pembagian peran antara laki-laki dan perempuan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan prosesi sembahyang arwah
masyarakat Flores Desa Pengudang yang dilihat dari relasi gender. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa yang melatarbelakangi adanya pembagian peran dalam prosesi
sembahyang arwah karena adanya konstruksi sosio-kultural dalam budaya Flores tentang apa
yang seharusnya diperankan oleh laki-laki dan apa yang seharusnya diperankan oleh
perempuan. Konstruksi sosial itulah yang akhirnya memunculkan anggapan-anggapan bahwa
perempuan itu pendatang, sehingga budaya patriarki yang terbangun mendominasi
kepemimpinan dalam adat Flores. Anggapan perempuan itu dibeli serta masyarakat Flores
menganggap bahwa sesajen adalah suatu hal yang sangat sakral sehingga perempuan tidak
boleh melaksanakan sesajen tersebut