Institusion
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Author
Ranisa Anastasia, Debora
Suryadi, Suryadi
Lia, Nuraini
Subject
302.23. Media Komunikasi, Media Massa
Datestamp
2021-12-14 06:27:21
Abstract :
Hak Cipta sebagai suatu aset tidak berwujud bisa dijadikan sebagai suatu jaminan
fidusia, hal ini terdapat pada Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak
Cipta. Peran Lembaga Penilaisangat dibutuhkan dalam menentukan nilai Hak Cipta
yang dijadikan sebagai objek Jaminan Fidusia. Namun, ketiadaan lembaga penilai
hak cipta menjadi penghalang hak cipta untuk dijadikan sebagai hak jaminan.
Dengan menggunakan pendekatan perbandingan, dengan membandingkan lembaga
appraisal di Amerika dan Australia untuk bisa menjadi acuan bagi Indonesia
mempunyai lembaga appraisal untuk hak cipta dengan tujuan ingin memberitahu
seberapa besar peran lembaga penilai dalam menentukan nilai hak cipta
berdasarkan peraturan PP Permenkeu Nomor 228/PMK.01/2019 tentang perubahan
kedua atas PP Permenkeu Nomor 101/PMK.01/2014 tentang Penilai publik dimana
penilai publik dapat memberikan nilai sesuai klasifikasi bidang jasa yang
ditentukan dan Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan Nomor KEP-620/BL/2011 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian
Laporan Penilaian Aset Tak Berwujud di Pasar Modal sebagai dasar dalam menilai
hak cipta sebagai aset tak berwujud untuk dijadikan sebagai objek jaminan fidusia.
Menggunakan teori perbandingan hukum agar menggambarkan bagaimana
peraturan dimana hak cipta yang bisa dijadikan sebagai objek jaminan fidusia bisa
dilaksanakan dengan adanya pendirian lembaga penilai bisa terlaksana dengan baik
sama halnya dengan negara Amerika dan Australia yang berhasil melakukan
pembebanan hak cipta sebagai objek jaminan dengan mempunyai lembaga
appraisal tersendiri