Institusion
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Author
KUMALA, RIZKI
Riyadi, Sayed Fauzan
Kustiawan, Kustiawan
Subject
172.4. International Relations Ethics/Etika Hubungan Internasional
Datestamp
2024-02-02 08:41:01
Abstract :
Kebutuhan masyarakat di daerah dalam suatu negara membuat pemerintah pusat kewalahan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini kemudian cikal bakal pemeberian hak otonom bagi pemerintah darah dalam memenuhi kebutuhan masyarakatnya.Seiring perkembangan waktu,pemerintah daerah dibaerikan hak bekerjasama antara daerah baik di dalam maupun di luar negeri. Kerjasama Sister City telah menjadi suatu bentuk kolaborasi yang efektif dalam membangun hubungan internasional dan pemberdayaan lokal. Salah satu contoh yang menarik adalah kemitraan antara Kota Batam di Indonesia dengan Kota Gimje di Korea Selatan. Sejak resmi ditatandatangani pada 17 Agustus 2013, ada beberapa aspek yang menjadi tujuan penting bagi kedua Kota yaitu pemahaman dan hubungan antara kedua masyarakat, sekaligus menciptakan peluang bisnis, pendidikan, dan budaya yang saling menguntungkan. Awalnya kerjasama ini dimulai dari saling ketertarikan antara kedua Kota. Kota Batam yang ingin belajar aspek pertanian dari Kota Gimje, begitu pula dengan Kota Gimje yang ingin belajar tentang industri manufaktur dari Kota Batam. Proses kerjasama ini dijelaskan menggunakan teori kapasitas paradiplomasi yang dikemukakan oleh Kuznetsov,dimana Kuznetsov mengatakan ada 6 faktor dalam mengukur suatu kapasitas paradiplomasi yaitu awal mula kerjasama, motif, dasar hukum, Penerapan paradiplomasi, sikap pemerintah pusat, dan konsekuensi kerjasama.Hasil Penelitian menunjukkan tidak ada hasil dari kerjasama dan kapasitas paradiplomasi Kota Batam dengan Kota Gimje ini tergolong tidak optimal karena tidak memenuhi beberapa indikator seperti penerapan paradiplomasi dan konsekuensi kerjasama.