Institusion
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Author
YUSTIZARDI, JONI
Amrizal, Sri Novalina
Ilhamdy, Aidil Fadli
Subject
339.17 Agricultural Commodities, Agricultural Products/Komoditas Pertanian, Produksi Pertanian
Datestamp
2025-02-10 07:42:10
Abstract :
Tingkat konsumsi beras meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya. Sebagai makanan pokok, konsumsi beras sulit untuk ditinggalkan masyarakat. Sementara itu, produksi beras mengalami penurunan setiap tahunnya sehingga dapat berdampak pada ketidakseimbangan pangan di Indonesia. salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan beras analog. Beras analog merupakan beras bukan padi yang diolah dengan bahan pangan lokal menjadi beras tiruan dengan nilai gizi yang disesuaikan. Beras analog umumnya terbuat dari bahan-bahan yang kaya akan karbohidrat, protein, serat, dan pati, yang memberikan efek fungsionalitas bagi manusia. Rumput laut merah Eucheuma spinosum dan sagu merupakan bahan pangan yang melimpah di Kepulauan Riau. Kedua bahan tersebut memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dan gizi lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama pada beras analog. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia beras analog dari rumput laut merah Eucheuma spinosum dan tepung sagu. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan 3 perlakuan perbandingan rumput laut dan tepung sagu yaitu 40:50, 45:45, 50:40. Bahan tambahan yang digunakan adalah tepung kedelai dan CMC. Beras analog yang dihasilkan dilakukan pengujian terhadap suhu gelatinisasi, densitas kamba (Nazhifah, 2018), dan analisa warna menggunakan aplikasi Color Meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi terbaik beras analog dari rumput laut merah (E. spinosum) dan tepung sagu dari Kepulauan Riau adalah F1 dengan persentase rumput laut merah (E. spinosum) 40% dan tepung sagu 50% dengan nilai rendemen 56%, densitas kamba 0,4323 mg/l, suhu gelatinisasi 67,03oC, dan serat kasar 4,59%. Beras yang dihasilkan berwarna merah kekuningan, yang semakin berwarna kegelapan seiring bertambahnya persentase rumput laut yang digunakan.