Abstract :
Daerah Irigasi Cimulu mengairi tiga saluran sekunder yaitu saluran Cimulu, saluran Dalam
Suba, dan saluran Cahanyang. Pada tahun 2019 terjadi kekeringan pada lahan pertanian dengan
luas mecapai 19,36% atau 306 ha. Risiko gagal lahan dapat diartikan sebagai kerugian karena
tidak tercapainya produksi dari lahan garapan akibat dari tindakan pada proses pengembalian
keputusan dalam proses perencanaan pengelolaan air irigasi. Kajian mengunakan metode meta
analisis digunakan untuk mengkaji perbandingan gagal lahan dari dua penelitian sebelumnya dan
penelitian penulis. Dari penelitian tersebut diperoleh jadwal tanam yaitu November 1 dengan pola
tanam padi-padi-padi. Nilai faktor k terendah berada pada bulan September 3 pada masa tanam
padi ke 3 saat pematangan menuju panen yaitu 0,296. Luasan dari dua penelitian sebelumnya
adalah 1546,2 ha dan luas yang digunakan penulis adalah 1032,47 ha karena adanya perubahan
lahan. Perbandingan yang di perolah yaitu untuk penelitian Nendra Setiawan 7,50% atau 115,97
ha menggunakan metode optimasi dengan bantuan aplikasi VBA, untuk penelitian Dadan
Firmansyah 40% atau 618,49 ha menggunakan metode survey sampel pada setiap pintu, dan
yang diteliti oleh penulis 2,85% atau 29,45 ha menggunakan metode sampel pada hulu, tengah
dan akhir irigasi yang dilengkapi pemetaan aplikasi ArcGIS berdasarkan topografi dan jarak
lahan dari pintu air. Hasil keseluruhan di pronyeksikan pada ArcGIS 10.6 dalam bentuk gambar
yang disertai keterangan.
Kata Kunci : Kegagalan Lahan, Faktor k, Irigasi