Abstract :
ABSTRAK
Pesantren Sukamanah Singaparna Tasikmalaya menjadi pesantren iconic di
kabupaten Tasikmalaya, telah membawa perubahan pada stakeholder didalamnya.
Hal ini karena ada kekhasan sistem pendidikan yang dijalankan yaitu, diduga
memberikan paham yang membentuk keleluasaan kepada santrinya untuk menjadi
peran apapun nantinya, menjadi transformator sosial, distimulus untuk
bereksplorasi mandiri, serta mengembangkan kesadaran kritis tetapi selalu
berbasiskan akhlaq tidak lain semuanya untuk merubah masyarakat kearah yang
baik. Pesantren ini menekankan pada praktek pembebasan meminjam istilah Paulo
Freire.Dengan hal diatas, penelitian ini akan mengungkap kebenaran Pratek
pendidikan pesantren Suk amanah sebagai Pratek pembebasan lewat pendalaman
sistem pendidikan dengan meminjam pisau analisis pendidikan kritis Paulo Freire
dalam memahami pendidikan pesantren Sukamanah Singaparna sebagai praktek
pembebasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap model dan filosofis
pendidikan pesantren Sukamanah yang ditinjau dari pendidikan kritis Paulo Freire.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori Pendidikan kritis
Paulo Friere, teori Kritis, dan Paradigma baru pesantren. Metode penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan studi kasus. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah dengan melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik
pengambilan sampel dilakukan secara Purposive dan Snowball Sampling. Validitas
data menggunakan Triangulasi sumber dan Analisis data yang digunakan adalah
Analisis isi dan deskriptif dari pengumpulan data, serta penarikan kesimpulan.
Hasil dari penelitian ini adalah sistem pendidikan pesantren Sukamanah
yang dianalisis berdasarkan pendidikan kritis Paulo Freire, Pesantren Sukamanah
menghendaki pendidikan atas manusia sebagai subjek dan dunia sebagai objek.
Kehadiran pendidikan pesantren Sukamanah mengindahkan proses pendewasaan
pola berfikir santri menuju berfikir kritis. Berfikir kritis yang landasi atas
responsivitas dan interaksi terhadap realitas sekitar.Otoritas kiyai pesantren yang
kuat tidak mengharuskan harus menjadi ulama, tetapi mengarahkan akhlak ulama
dalam keseharian dimasyarakat dan bebas berekpresi berprofesi apapun. adapun
praktek kritis dengan adanya forum diskusi sikap tawasut (moderat) ditingkat
pengurus-mudarist dan santri. Disini melahirkan apa yang dikatakan Paulo Freire
sebagai proses Konsientisasi (penyadaran) melalui dialog. Sukamanah dalam
interaksi yang menjungjung keegaliteran atau dialog emansipatoris, yang praktik
dialognya disesuaikan dengan konsep keluarga. Sehingga dibangun kasih sayang,
tidak saling mendominasi tetapi bedasarkan struktur bapak-anak, kakak dan adik.
Sehingga menututup keran dominasi dalam pengarahan keilmuan dan praktik.
Pendidikan. Sehingga dalam beberapa praktik aksiologi yang sama, praktek
pembebaasan yang sejalur dengan pendidikan kritis Paulo Freire, dipesantren
Sukamanah layak bisa disebut dengan melakukan praktek pembebasan.
Kata Kunci : Pesantren Sukamanah, Pendidikan Kritis, Paulo Freire,
pembebasan