Abstract :
ABSTRAK
Kekeringan merupakan kondisi di mana ketersediaan air kurang dari
kebutuhan air. Data kekeringan di Daerah Irigasi Cimulu sekitar 19,63% atau
303,5 ha dari luas lahan tersedia 1546,2 ha. Kekeringan tersebut diprediksi terjadi
karena perbedaan luas daerah pengairan antara wilayah Manonjaya dan
Cibeureum dan tidak meratanya pemberian air. Luas Daerah Irigasi Cimulu
termasuk kategori kecil sehingga apabila diterapkan sistem golongan atau rotasi
teknis akan sulit untuk operasional, maintenance, dan pelaksanaannya. Kondisi
tersebut perlu adanya optimalisasi pemberian air dengan modifikasi pola tanam.
Pengelompokkan iklim Daerah Irigasi Cimulu didasarkan pada klasifikasi
Oldeman, dan pembangkitan data debit sintetik sampai tahun 2082 menggunakan
metode Thomas Fiering. Metode optimalisasi yang digunakan adalah program
linier dengan pertimbangan risiko gagal lahan maupun tanpa risiko gagal lahan.
Hasil yang diperoleh adalah jadwal tanam optimum baik kondisi normal maupun
kondisi kering yaitu pada awal tanam November-1 dengan intensitas tanam 300%
pada kondisi normal dan 260% pada kondisi kering. Keuntungan yang diperoleh
dari dua kondisi ketersediaan air tersebut adalah Rp91.412.101.845 dengan pola
tanam padi & palawija-padi & palawija-padi dan Rp57.093.337.545 dengan pola
tanam padi & palawija-padi & palawija-padi. Teknik pemberian air di Daerah
Irigasi Cimulu setelah dilakukan optimalisasi menjadi continuous atau terus
menerus untuk semua kondisi ketersediaan air maupun jadwal tanam. Jika risiko
gagal lahan dipertimbangkan, keuntungan yang diperoleh dapat mencapai
Rp96.165.135.900 dengan pola tanam padi-padi-padi, namun reliabilitas yang
diperoleh hanya sebesar 25%. Orientasi pengoptimalan dengan metode linier
simpleks adalah pemenuhan kebutuhan air dan reliabilitas luas tanam, sedangkan
dengan risiko gagal lahan adalah keuntungan maksimum.
Kata Kunci: Keuntungan, Luas Lahan, Optimalisasi, Risiko Gagal Lahan