DETAIL DOCUMENT
Makna Banzai dalam Masyarakat Jepang (Kajian Antropolinguistik)
Total View This Week0
Institusion
Universitas Sumatera Utara
Author
Pebriani, Ropi
Subject
Makna Banzai (Kajian Antropolinguistik) 
Datestamp
2019-03-18 02:45:27 
Abstract :
Skripsi ini membahas tentang makna banzai dalam masyarakat Jepang (kajian antropolinguistik). Tujuan dari dibuatnya Skripsi ini adalah untuk mengtahui makna banzai dalam masyarakat Jepang. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah untuk menambah wawasan mengenai banzai. Terutama banzai yang terjadi pada Perang Dunia II serta untuk menambah pengetahuan mengenai latar belakang munculnya semboyan banzai dalam masyarakat Jepang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode pustaka. Aisatsu sangat penting dalam budaya masyarakat Jepang. Aisatsu adalah media untuk menjaga hubungan baik sesama manusia, melalui aisatsu komunikasi akan terbina sehingga hubungan sosial dengan sesama, baik dalam lingkungan pribadi maupun hubungan pekerjaan akan terjalin dengan baik. Dalam masyarakat Jepang, banyak sekali ungkapan-ungkapan salam yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, memiliki banyak makna yang terkandung didalamnya, baik sebagai ungkapan memuji, menghormati, memberi semangat, dan lain-lain. Semakin banyaknya hubungan sosial, aisatsu pun semakin beragam, dan tentu saja perbedaan aisatsu dari beberapa wilayah/daerah pun akan tampak. Salah satu aisatsu yang sering digunakan dalam masyarakat Jepang adalah banzai, baik digunakan dalam situasi formal atau informal. Banzai merupakan istilah yang diterapka saat Perang Dunia II oleh pasukan sekutu pada serangan gelombang manusia yang dipimpin oleh pasukan Angkatan Darat kekaisaran Jepang. Dalam bahasa Jepang, banzai berasal dari kata ?ban? dan ?zai?. ?ban? yang berarti ?sepuluh ribu? dan ?zai? yang berarti ?umur atau usia?. Istilah banzai berasal dari seruan Tenno Heika Banzai yang memiliki arti ?semoga kaisar hidup 10.000 tahun?. Tenno Heika adalah sebutan untuk kaisar Jepang. Semboyan banzai mulai digunakan pada zaman era nara (710-794). Istilah banzai berasal dari seruan Cina yaitu manzai, sebelum muncul istilah banzai di Jepang ada kata houga dan fure-e, namun keduanya ditolak karena dianggap aneh. Pada abad ke-8 banzai digunakan untuk mengungkapkan rasa hormat kepada kaisar yang sama dengan Negara Cina. Setelah restorasi meiji ucapan banzei diubah menjadi kata banzai dengan melantunkannya sebanyak tiga kali yang diresmikan pada tahun 1889. Pada Perang Dunia II banzai merupakan seruan perang (battle cry) pada unit yang bertempur untuk maju, adalah sikap espirit de corp atau meningkatkan semangat juang dan keberanian pasukan yang lain untuk mengikuti yang sudah maju. Pada Perang Dunia II serangan banzai dianggap sebagai serangan bunuh diri untuk menghindari kekalahan dan ketidakhormatan. Keterlibatan Jepang dalam Perang Dunia II merupakan perang besar tang melibatkan banyak negara dunia. Perang Dunia II berawal dari perang pasifik dipicu oleh serangan Jepang ke Pearl Harbour. Adapun Jepang menyerang Pearl Harbour karena kekecewaannya terhadap Amerika, dimana Jepang merasa diperlakukan tidak adil oleh bangsa barat dan kedudukannya direndahkan. Dimulai ketika Jepang dipaksa membuka negaranya saat Jepang melakukan politik Sakoku (menutup Negara dari bangsa asing) pada masa pemerintahan Bakufu. Pada Perang Dunia II banzai charge atau serangan banzai adalah istilah yang diciptakan oleh kalangan pasukan Sekutu untuk menyebut taktik serangan Human Wave attack yang dilakukan oleh pasukan Jepang. Pada akhir Perang Dunia II, saat kekalahan sudah ada di depan mata Kekaisaran Jepang, serangan massal ini menjadi uaha terakhir Jepang ketika menyerah atau kematian menjadi pilihan terakhir, seperti saat pertempuran attu pada 19 Mei 1943. Bagi orang Amerika, banzai merupakan adegan serdadu Jepang yang berteriak ketika mereka memenangkan pertempuran atau ketika mereka melakukan bunuh diri dalam Kamikaze Attack. Sedangkan bagi orang Jepang meyakini taktik serangan banzai adalah salah satu metode untuk melakukan Gyoukusai (mati dengan terhormat). Taktik serangan bunuh diri seperti itu sudah dilakukan sejak zaman Sengoku, yang mana para samurai Jepang mengikuti kode etik yang diebut bushido. Prajurit Jepang harus memegang teguh ajaran bushido, dalam ajaran bushido mati untuk Tenno adalah bentuk mati yang sempurna dan termulia. Bagi mereka, kalah tidak harus mati. Kekalahan dapat ditebus kembali dengan kemenangan, jika terpaksa kalah maka mereka mau kalah dengan penuh harga diri. Kebanyakan orang berpendapat bahwa taktik serangan banzai adalah hal yang bodoh dan tidak rasional. Serangan banzai relatif gagal, karena pertahanan sekutu di Pasifik lumayan kuat. Kunci kesuksesan taktik serangan banzai adalah jika musuh mempunyai pertahanan yang lemah. Salah satu serangan banzai yang sukses adalah yang dilakukan di pulau attu. Yang mana serangan itu menembus sangat jauh ke dalam garis pertahanan Amerika. Serangan banzai yang terbesar lainnya dilakukan pada saat-saat terakhir pertempuran Saipan pada 1944 yang menewaskan 4.000 tentara Jepang. Saat ini, banzai memiliki arti sebagai tindakan yang meng 

Institution Info

Universitas Sumatera Utara