Abstract :
Fenomena bullying verbal maupun non-verbal sering kali dijumpai di lingkungan sekolah, lingkungan pergaulan dan lingkungan sekitar. Namun fenomena bullying juga sering kita lihat ditayangan televisi, padahal yang kita tahu media televisi memiliki fungsi to educate dan to inform. Fenomena ini membuat peneliti tertarik dalam menelaah program Brownis Trans TV , dimana kontennya mengandung unsur bullying verbal dalam aspek fisik kepada Anabel selaku penonton bayaran. Konten yang merepresentasikan bullying verbal tentu saja melenceng jauh dari fungsi media televisi, yaitu to educate. Meskipun bertujuan untuk membuat penontonnya terhibur dan demi meningkatkan rating, tentu saja perilaku tersebut tidak pantas ditampilkan karena bisa berdampak buruk bagi Anabel selaku korban bullying. Penelitian ini menggunakan metode semiotika Charles Sanders Pierce dan teknik analisis datanya dilakukan dengan observasi serta melakukan interview dengan dua orang triangulator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Anabel merupakan satu-satu nya penonton bayaran yang sering mendapatkan bullying verbal dari host Brownis Trans TV. Selain itu, tanda yang merepresentasikan pada bullying verbal kepada Anabel yaitu tanda fisik yang merupakan kekurangan dari Anabel. Kehadiran Anabel pun sukses dalam menaikkan rating Program Brownis Trans TV. Meskipun menjadi korban bullying, bukan berarti Anabel akan mengalami gangguan mental. Hal ini dikarenakan Anabel tidak melakukan perlawanan apapun yang menandakan bahwa bullying yang diterimanya hanya sebatas lelucon atau candaan saja. Meskipun begitu, program televisi yang memuat unsur bullying harus ditindak tegas, karena telah menggeser fungsi media televisi sendiri yaitu to educate dan to inform.