Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana aliansi keamanan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Korea Selatan mempengaruhi dilema keamanan yang dirasakan Korea Utara sehingga negara tersebut mengembangkan program nuklirnya, terutama di masa pemerintahan Kim Jong-un. Berakhirnya perang di Semenanjung Korea yang mengawali terbentuknya aliansi keamanan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan di tahun 1953, nampaknya membawa pengaruh terhadap dilema keamanan yang dirasakan oleh Korea Utara. Amerika Serikat yang unggul dalam bidang militer dan melindungi Korea Selatan dalam payung nuklirnya, membuat Korea Utara memikirkan kembali jalan pintas untuk menangkal ancaman dari aliansi kedua negara tersebut. Selain itu, keinginan untuk reunifikasi semenanjung yang hingga kini belum tercapai karena terhalang oleh aliansi, semakin meyakinkan Korea Utara untuk menjamin keamanan nasionalnya dan menggoyahkan aliansi tersebut dengan bergantung kepada program nuklir. Provokasi-provokasi melalui peluncuran rudal dan uji coba nuklir semakin meningkat di saat Kim Jong-un memerintah Korea Utara. Negara tersebut mendesak agar Amerika Serikat segera menarik mundur pasukannya dari Korea Selatan dan secara jelas mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Korea Selatan merupakan target dari program nuklir mereka.