Abstract :
Menjamurnya fintech di Indonesia membuat persainganpun semakin ketat,
kebanyakan diantaranya merupakan perusahaan B2C yang terfokus melakukan
branding besar-besaran guna meningkatkan customer acquisition. Lain halnya
dengan perusahaan finetch yang terfokus pada B2B saja. Branding yang dilakukan
akan lebih rumit. Pada perusahaan fintech B2B, strategi branding yang dilakukan
tidak jauh berbeda dengan B2C, hanya saja nature nya sebagai perusahaan B2B
akan menjadikan tantangan tersendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui sejauh mana brand TADA dapat berkembang dianalisis melalui level
yang disebut hierarchy of branding. Metode penelitian ini menggunakan metode
studi kasus pada perusahaan TADA. Hasil analisis dari penelitian ini
memperlihatkan bahwa secara keseluruhan TADA sudah melakukan tahapan dari
hierarchy of branding yang meliputi brand awareness, brand knowledge, brand
image, brand experience, brand loyalty, brand spirituality, namun belum dapat
sepenuhnya berhasil dicapai dengan baik. Analisis dari hasil penelitian ini juga
menunjukan adanya dua temuan, pertama yaitu bahwa B2B branding yang
dilakukan TADA berorientasikan kepada selling dan belum memiliki strategi yang
sistematis dan terintegrasi dengan baik, dan yang kedua yaitu TADA cenderung
menggunakan strategi edukasi dalam melakukan B2B branding-nya. Penelitian ini
merekomendasikan untuk mulai memikirkan strategi branding yang sistematis,
strategis dan terpadu sebagai bagian dari investasi komunikasi masa depan,
sebagaimana ditunjukkan misalnya oleh IBM sebagai perusahaan teknologi dengan
karakter business-to-business branding yang sukses.