Abstract :
Industri penerbangan di Indonesia mengalami peningkatan pada beberapa tahun terakhir yang menyebakan tingginya emisi gas buang pada sektor penerbangan yang salah satunya adalah Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Emisi gas buang ini timbul dari fase landing take off (LTO) di bandara yang menghasikan emisi karbon monoksida (CO) dan Nitrogen oksida (NOx). Emisi yang dihasilkan dari bandara ini dapat dihitung dengan menggunakan metode hibrid. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan emisi CO dan NOx yang dihasilkan di bandara, membandingkan emisi yang dihasilkan dengan standar baku mutu, dan menganalisis perbedaan besar pencemar selama 24 jam pada tiap 8 jam dalam waktu 1 bulan. Dari data yang terkumpul, diperoleh waktu pada fase LTO menciptakan tingginya emisi. Pukul 16.00 – 00.00 merupakan emisi tertinggi pada fase take off dan pukul 08.00 – 16.00 merupakan emisi tertinggi untuk fase landing. Emisi rata-rata harian CO pada fase LTO diperoleh sebesar 0,79 μg/Nm3 dan NOx sebagai NO2 sebesar 28,4 μg/Nm3. Berdasarkan baku mutu udara ambien PP Nomor 41 Tahun 1999 emisi yang dihasilkan di bandara Halim Perdanakusuma masih di bawah baku mutu. Hasil dari penelitian ini digunakan sebagai bahan masukan untuk pemangku kepentingan di Bandara Halim Perdanakusuma.
Kata Kunci : Baku Mutu Udara Ambien, Emisi CO dan NOx, Halim Perdanakusuma, LTO, Metode Hibrid.