Abstract :
Fenomena perundungan/bullying masih menjadi masalah sampai saat ini di masyarakat dunia. Fase remaja merupakan fase yang sangat rentan bagi anak untuk menjadi korban bullying atau bahkan pelaku bullying. Hal ini dikarenakan fase remaja merupakan fase masa pencarian jati diri seorang anak, terkadang justru disikapi oleh anak tidak secara positif yang bisa menyebabkan anak menjadi korban atau pelaku bullying. Dalam penelitian yang menggunakan metode semiotika Roland Barthes dengan menganalisis teks dan video ini, peneliti melihat bagaimana film â€A Girl Like Her†merepresentasikan bullying. Analisis dilakukan melalui dua tahap, yaitu signifikasi tingkat pertama yaitu makna denotasi dan signifikasi kedua yaitu menguraikan makna konotasinya dalam tahap inilah terjadi mitos. Pada film A Girl Like Her sesuai dengan tiga jenis bullying menurut yayasan Sejiwa terbagi menjadi 3 adegan yang merepresentasikan bentuk bullying fisik, 4 adegan bentuk bullying verbal, dan 1 bentuk bullying Mental dan Psikologis. Mitos yang ditemukan tentang pelaku bullying melakukan modeling terhadap perilaku dari orangtuanya serta seringkali pelaku bullying menganggap alasannya melakukan bully/penindasan sebagai candaan. Selanjutnya Korban bullying umumnya ada diposisi yang lemah dan tidak percaya diri, tidak berani mengungkapkan perbuatan bullying yang telah diterimanya sehingga korban cenderung tertekan dan depresi.