Abstract :
Adanya dugaan kudeta yang dilakukan oleh wakil presiden Sudan Selatan, Riek Machar, membuat presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, mulai mengatur strategi keamanan untuk dirinya. Praduga kudeta ini pada akhirnya mulai memicu konflik civil war terutama berkaitan dengan etnis yang berbeda diantara pemerintah dengan Sudan People Liberation Army (SPLA) dan pemberontak dengan South Sudan Defence Force (SSDF). Residu dari konflik yang pernah menjadi sejarah kelam bagi warga Sudan Selatan, yaitu Perang Saudara Sudan, menjadikan konflik dengan penggunaan senjata menjadi pilihan utam bagi pemerintah untuk mengatasi konflik yang terjadi. Konflik pun pada akhirnya memberikan hubungan serta pelanggaran kepada Hak Asasi Manusia warga Sudan Selatan, terutama pada perempuan dan anak, seperti pelecehan seksual serta menjadikan anak sebagai tentara perang.
Kata Kunci: Sudan Selatan, Perang Saudara, Hak Asasi Manusia