Abstract :
Awal februari tahun 2016 Korea Selatan mengumumkan bahwa pihaknya sepakat untuk memulai diskusi pengadaan sistem rudal anti-balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) bersama dengan Amerika Serikat pasca uji coba nuklir Korea Utara dengan menggunakan bom hidrogen pada bulan Januari. Meskipun aksi Korea Selatan mengadakan THAAD sebagai upaya untuk melindungi wilayahnya dari ancaman nuklir Korea Utara namun aksi tersebut mendapatkan kecaman dari China. China menganggap bahwa pengadaan tersebut memberikan ancaman baru terhadap keamanan nasional dan kestabilan di kawasan Asia Timur sehingga China melakukan upaya untuk merespon aksi tersebut dengan meningkatkan kapabilitas militer dan melakukan kerjasama militer dengan Rusia yang dalam penelitian ini akan dianalisis melalui empat variabel; magnitude, timing, awareness dan motive dalam teori aksi-reaksi.