Abstract :
Setiap investor mengharapkan return yang tinggi dari dana yang diinvestasikan
dengan risiko seminimal mungkin. Sehingga, investor menjadikan return sebagai
acuan untuk berinvestasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh
dari adanya risiko pasar (beta), inflasi, tingkat suku bunga, dan kurs terhadap return
saham sebelum dan semasa terjadinya perang dagang Amerika vs China dan
menguji perbedaan return saham sebelum dan semasa perang dagang Amerika vs
China. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan kelompok saham LQ45
yang terdaftar di BEI periode 2017-2019. Dengan menggunakan purposive
sampling method diperoleh sampel sebanyak 4 perusahaan yang memiliki afiliasi
dengan Amerika. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi linear berganda data panel. Hasil dari penelitian ini ialah, tidak
terdapat perbedaan return saham sebelum dan semasa perang dagang. Sebelum
perang dagang risiko pasar (beta) berpengaruh secara signifikan dan positif; kurs
berpengaruh secara signifikan dan negatif; inflasi dan suku bunga tidak
berpengaruh signifikan. Semasa perang dagang Amerika vs China risiko pasar
(beta) berpengaruh secara signifikan dan positif; suku bunga berpengaruh negatif
dan signifikan; inflasi, dan kurs tidak berpengaruh signifikan. Nilai adjusted R2
sebelum dan semasa perang dagang adalah sebesar 13.3897% dan 15,7988%.
Kata kunci: Return Saham LQ45, Perang Dagang Amerika vs China, Risiko
Pasar (Beta), Inflasi, Suku Bunga, Kurs