Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) memperkenalkan budaya ritual adat seju pou pada
masyarakat Ladolaka Palue dan (2) menjelaskan nilai dan arti sastra lisan dalam ritual adat seju
pou serta menggambarkan makna yang terkandung di dalam ritual adat seju pou tersebuat kepada
generasi sebagai pewaris sastra lisan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan dan kajian
kepustakaan. Objek yang diteliti adalah peran nilai sastra lisan dalam ritual adat seju pou bagi
masyarakat Ladolaka Kecamatan Palue. Penulis menggunakan dua sumber data yakni primer
dan sekunder. Sumber primer mencakup data-data yang penulis peroleh dari hasil wawancara
dengan tokoh-tokoh adat dan beberapa tokoh masyarakat yang terlibat aktif dalam ritual adat
seju pou. Sedangkan sumber data sekunder mencakup sumber yang penulis peroleh dan
mengumpulkan dari berbagai sumber dalam perpustakaan dan media online. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah teknik interaktif yakni melakukan wawancara secara
langsung dengan tokoh adat dan tokoh masyarakat. Langkah-langkah yang ditempuh penulis
dalam mewawancarai narasumber adalah pertama, membuat daftar pertanyaan, meminta izin
kesediaan dari narasumber untuk diwawancarai dan melakukan wawancara. Kedua,
mengumpulkan hasil wawancara dan mempelajari beberapa teori yang relevan dengan tema
penelitian. Ketiga, mencatat dan menganalisis semua data dan kutipan hasil wawancara.
Berdasarkan hasil penelitian lapangan dan kepustakaan disimpulkan bahwa kebudayaan
masyarakat desa Ladolaka dalam ritual adat seju pou memberi pengaruh baik positif maupun
negatif bagi kehidupan masyarakat. Dampak positif dari ritual seju pou bagi masyarakat desa
Ladolaka antara lain, pertama, menciptakan suatu peristiwa rekonsiliasi atau pemulihan antara
manusia dengan Tuhan sebagai Wujud Tertinggi, manusia dengan alam, dan manusia dengan
leluhur. Kedua, menyadarkan masyarakat desa Ladolaka pada khususnya dan masyarakat Palue
terutama generasi muda agar lebih peka terhadap budaya-budaya lisan yang dianggap kuno.
Maka dari itu, sebagai pribadi yang berpengetahuan dalam ruang lingkup filsafat, penulis ingin
menghantar masyarakat terutama generasi sebagai pewaris kebudayaan kepada suatu
pemahaman dan menyadarkan masyarakat untuk selalu berpikir sebelum bertindak. Generasi
sebagai pewaris harus pintar dalam memilih hal mana yang lebih diprioritaskan. Segala nila-nilai
budaya dalam ritual adat seju pou yang terjadi hendaknya menghantar masyarakat pada
suatu kehidupan yang damai, harmonis dan tenteram baik terhadap Tuhan, alam dan leluhur.