Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dua lirik lagu karya Iwan
Fals melalui empat variabel hermeneutika Gadamer yaitu prasangka sebagai syarat
pemahaman, kesadaran menyejarah yang efektif, dialektika dan bahasa. Metode
yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan analitis
kritis melalui studi kepustakaan. Metode deskriptif kualitatif dipakai untuk
menjabarkan fakta-fakta historis dan data-data yang relevan dengan lirik-lirik lagu
karya Iwan Fals. Lalu pendekatan analitis kritis yang dimaksudkan adalah memakai
keempat variabel dalam hermeneutika Hans-Georg Gadamer untuk meninjau
makna lirik-lirik lagu karya Iwan Fals. Referensi primer dalam penelitian ini adalah
kata, frasa, dan kalimat yang terdapat dalam lirik-lirik lagu karya Iwan Fals.
Referensi sekunder diambil dari penelitian-penelitian terdahulu, baik berupa studi
ilmiah, dan data-data sejarah yang relevan dengan wacana lirik-lirik lagu karya
Iwan Fals. Selain itu data penelitian diperoleh juga dari tulisan-tulisan pada buku,
jurnal ilmiah, surat kabar, dan internet yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Pada masa Gadamer, diskursus tentang Hermeneutika bergeser dari lapisan
epistemologis dan metodologis ke level ontologis. Hal ini berarti ada pergeseran
dari studi tentang teks kepada penafsiran eksistensi manusia sebagai entitas
temporal-historis. Karena itu wacana objektifikasi dan metodologis ilmu
pengetahuan tentang manusia tidak berlaku bagi Gadamer. Basis hermeneutika
Gadamer bercorak produktif jika dibandingkan dengan wacana hermeneutik
beberapa pendahulunya yang berciri hermeneutik reproduktif. Gadamer
merehabilitasi tiga konsep klasik yakni prasangka, otoritas dan tradisi. Suatu
interpretasi pada hakikatnya tidak terlepas dan melekat dengan tiga prinsip itu.
Secara sederhana, tiga paradigma tersebut merupakan fenomena primer dan
primordial yang melatarbelakangi suatu pemahaman. Kemudian dalam proses
pemahaman dan penafsiran sejarah (karya-karya yang bersejarah), selalu ditandai
adanya peleburan horizon-horizon masa lampau dan masa kini, sekaligus sebuah
proyeksi terhadap (potensi) masa depan. Itulah paradigma tentang kesadaran
sejarah yang efektif. Instrumen berikut yang dipakai Gadamer dalam filsafatnya
yakni dialektika dan bahasa. Dengan prinsip dialektika sebagai syarat fundamental
bagi tercapainya pemahaman dan pengertian, serupa juga dengan justifikasi
prasangka-prasangka dan fusi horizon-horizon. Dan yang terakhir, konsep bahasa
yakni sebuah media universal yang mampu mewakili dialog pengalaman sebagai
bertanya dan menjawab. Atau praksisnya dikatakan bahasa sebagai media sebuah
pengalaman hermeneutik.
Salah satu maestro musik di Indonesia yang fenomenal dan masih produktif
dengan musik balada-nya ialah Iwan Fals. Musisi yang merintis karirnya dari
?panggung pengamen jalanan? itu khas ?berseloroh? tentang realitas sosial. Baik
kenyataan dalam konteks nasional dan internasional maupun juga pengalaman
privat yang ia alami. Karakter musik yang sangat menonjol dari Iwan Fals yakni
muatan lirik-lirik lagu yang sarat kritik sosial. Masa kejayaan rezim Soeharto yang
korup dan represif menjadi latar belakang dari maraknya karya-karya Iwan Fals.
Komposisi musiknya digarap untuk menyalurkan suara golongan ?akar rumput?
dan sebagai alat perlawanan terhadap rezim yang tiran saat itu. Dua buah lagunya
yang termasyhur ialah Galang Rambu Anarki dan Surat Buat Wakil Rakyat. Dengan
minat untuk meninjau cerita sejarah dan kekayaan makna pada dua lirik lagu
tersebut, penulis memakai empat variabel dalam Hermeneutika Hans-Georg
Gadamer sebagai indikator analisis.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa lirik lagu Galang Rambu
Anarki dan Surat Buat Wakil Rakyat sangat signifikan ditinjau dari empat variabel
Hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Pertama, alasannya karena melalui konsep
prasangka sebagai syarat pemahaman dapat ditemukan intensi dasar, maksud
pertama dan harapan yang hendak disampaikan pengarang dalam kedua lirik
lagunya. Kedua, melalui konsep kesadaran sejarah yang efektif, dapat ditinjau
sejarah teks saat diciptakan dan juga horizon sejarah masa kini, sekaligus sebagai
pijakan dan proyeksi (masa depan). Ketiga, dengan konsep dialektika sanggup
dianalisis ketepatan pesan yang hendak disampaikan dan dikomunikasikan
pengarang teks kepada khalayak umum, serta merujuk pada teks. Keempat, melalui
variabel bahasa muatan makna yang disampaikan pengarang dapat semakin jelas
diurai dan dapat diketahui lewat genre teks serta kesadaran kolektif yang hendak
dibangun.