Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan pire, memberikan gambaran umum mengenai masyarakat adat Detusoko dan gambaran sosio-kulturalnya, (2) memberi penjelasan tentang Ensiklik Laudato Si?, (3) menjelaskan kontribusi pire terhadap pelestarian lingkungan hidup menurut Ensiklik Laudato Si?.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Dalam pendekatan ini, peneliti berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan pola nilai, perilaku, kepercayaan, dan bahasa yang dipelajari dan dianut oleh suatu kelompok budaya. Sementara itu, teknik pengumpulan data ditempuh melalui tiga metode yaitu metode kepustakaan, wawancara mendalam, dan observasi langsung. (1) Metode kepustakaan ditempuh melalui cara mengumpulkan pelbagai bahan atau literatur yang berkaitan erat dengan tema tulisan. (2) Metode wawancara mendalam dilakukan dengan para informan kunci yang berfokus pada pire. (3) Metode observasi langsung ditempuh dengan mengamati dan mempelajari secara langsung pire. Berdasarkan metode-metode tersebut, penelitian ini akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat adat Detusoko ikut ambil bagian dalam melestarikan lingkungan hidup seperti yang diserukan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si?. Bentuk tanggung jawab masyarakat adat Detusoko terhadap pelestarian lingkungan hidup terejawantahkan dalam pire. Dengan menghidupi dan menghayati pire, masyarakat adat Detusoko seyogianya memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan hidup seperti yang diserukan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si?.
Kontribusi pire terhadap pelestarian lingkungan hidup menurut Ensiklik Laudato Si? mencakup empat aspek. (1) timbulnya kesadaran akan persatuan dengan alam. (2) Tumbuhnya rasa tanggung jawab terhadap alam. (3) Peningkatan pemahaman dan kesadaran akan nilai-nilai luhur alam, dan (4) mewujudkan pertobatan ekologis.