Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
SELAI, Yohanes Pranata
Subject
230 Agama Kristen, Teologi Kristen
Datestamp
2023-07-27 00:36:28
Abstract :
Adapun tujuan utama penulisan ini ialah untuk melihat persoalan stigma dan
diskriminasi pada ODHA di Maumere dalam terang teologi pemerdekaan
Mangunwijawa. Tujuan utama ini dicapai melalui beberapa tahapan: 1)
Mendeskripsikan persoalan stigma dan diskriminasi pada kelompok ODHA di
Maumere. 2) Menjelaskan pandangan Mangunwijaya tentang teologi pemerdekaan,
dalam kaitannya dengan stigmatisasi dan diskriminasi. 3) Menjelaskan relevansi
teologi pemerdekaan Mangunwijaya dalam menjawabi persoalan stigma dan
diskriminasi pada kelompok ODHA di Maumere.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Sumber data utama dari penelitian ini adalah wawancara tatap muka dengan para
ODHA, pengurus KDS, KPAD, masyarakat biasa, petugas kesehatan dan juga
kaum religius, serta data-data yang diperoleh dari beberapa sumber. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatoris, wawancara
mendalam dan studi pustaka. Teologi pemerdekaan Mangunwijaya dalam tulisan
ini dijadikan sebagai pijakan teoretis dan bingkai analisis.
Teologi pemerdekaan Mangunwijaya sebagai sebuah refleksi teologis
terhadap kenyataan dan pengalaman hidup yang dialami oleh umat beriman,
mendorong setiap orang untuk selalu mengamalkan apa yang diimaninya di dalam
realitas kehidupan setiap hari. Pemerdekaan yang dimaksudkan oleh Romo
Mangunwijaya ialah pemerdekaan total manusia dari aneka bentuk ketidakadilan
yang merendahkan martabatnya sebagai manusia. Teologi pemerdekaan
Mangunwijaya lahir dari penghayatan nilai-nilai Injili dan teladan hidup Yesus
Kristus.
Berkaitan dengan para ODHA di Maumere, kehidupan yang mereka jalani
adalah sebuah gambaran dari orang-orang yang kehilangan jati diri, kehilangan
perhatian, kasih sayang dan juga harga diri. Stigma dan diskriminasi yang mereka
terima merupakan sebuah bentuk pelecehan terhadap martabat manusia. Teologi
pemerdekaan Mangunwijaya menawarkan satu perspektif baru tentang bagaimana
orang-orang Kristiani membangun relasi dengan orang-orang kecil, tertindas dan
yang tidak diakui dalam masyarakat. Keutamaan-keutamaan yang ditawarkan oleh
Mangunwijaya adalah sebagai berikut: Pertama, pendekatan yang mengutamakan
nilai cinta kasih. Cinta kasih bagi Mangunwijaya bukan sesuatu yang abstrak, tetapi
harus menemukan wujudnya dalam kebersamaan dengan yang lain. Kedua,
penghargaan terhadap martabat manusia. Bagi Mangunwijaya, martabat manusia
tidak pernah hilang atau berkurang hanya karena sakit atau situasi sulit yang dialami
oleh manusia. Karena itu, segala hal yang melecehkan martabat manusia harus
dilawan dan dihilangkan. Ketiga, solidaritas. Teologi pemerdekaan mengajarkan
kepada setiap orang Kristiani untuk senantiasa mencintai orang-orang kecil,
membantu orang-orang kecil keluar dari persoalan yang mereka alami, menghargai
satu sama lain dan mengkritisi kebijakan atau cara pandang yang salah yang bisa
mengorbankan nasib orang-orang kecil. Keutamaan-keutamaan ini pada dasarnya
bisa menjadi kekuatan yang mampu menghilangkan stigma dan diskriminasi yang
dialami oleh para ODHA di Maumere.
Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa stigma dan diskriminasi
terhadap para ODHA di Maumere masih terjadi. Hal ini tampak dalam perilaku
menghina, mengucilkan, memfitnah dan mengusir para ODHA. Stigma dan
diskriminasi terhadap ODHA umumnya dilakukan oleh keluarga dekat, masyarakat
umum, teman, lingkungan pekerjaan dan juga tenaga kesehatan. Ada beberapa
faktor yang menjadi penyebab terjadinya stigma dan diskriminasi pada ODHA.
Pertama, minimnya pengetahuan dari masyarakat terkait virus HIV dan AIDS
beserta penularannya. Hal ini menyebabkan masyarakat beranggapan bahwa HIV
dan AIDS adalah penyakit yang sangat berbahaya dan mudah menular. Kedua,
konsep dan pandangan masyarakat yang masih keliru tentang HIV dan AIDS yang
dialami oleh para ODHA. Masyarakat masih beranggapan bahwa orang yang
terkena virus HIV dan AIDS adalah orang-orang yang tidak bermoral, orang-orang
yang tidak berdamai dengan leluhur dan orang berdosa yang terkena kutukan dari
Tuhan karena perbuatan yang mereka lakukan.