Abstract :
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk: (1) mengetahui dan mengenal siapa itu
Henry A. Giroux dan bagaimana konsep pedagogi kritisnya; (2) mendeskripsikan
realitas pendidikan yang terjadi di NTT; (3) menemukan peran pedagogi kritis
terhadap realitas pendidikan di NTT.
Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah deskriptif
kualitatif. Dalam proses pengumpulan data penelitian deskriptif kualitatif ini, penulis
menggarap banyak buku, jurnal, materi seminar, skripsi, tesis, artikel-artikel ilmiah,
dan sumber tertulis lainnya yang relevan dengan judul karya ilmiah ini.
Berdasarkan hasil analisis dari metode penelitian deskriptif kualitatif di atas,
disimpulkan bahwa Henry A. Giroux dalam teori pedagogi kritisnya melihat
pendekatan pembelajaran yang berupaya untuk membantu peserta didik
mempertanyakan dan menentang dominasi serta keyakinan dan praktik-praktik yang
mendominasi. Ia memposisikan pendidikan sebagai alat pembebasan peserta didik.
Dalam hal ini, ia memperluas makna pedagogi sebagai paradigma kehidupan, yakni
pandangan yang dianut oleh seseorang secara mendalam untuk melihat hubungan
dengan orang lain. Paradigma yang diajukan oleh Giroux bersikap kritis. Artinya ia
mempertanyakan hubungan kekuasaan yang terletak di dalam masyarakat. Guna
mencapai sikap ini, perlu adanya wawasan yang luas untuk melihat persoalan dalam
kaitannya dengan persoalan yang lain dan kepekaan moral untuk membuat penilaian
baik dan buruk terhadap suatu peristiwa. Perpaduan sikap kritis, keluasan wawasan
serta kepekaan moral menjadikan pedagogi kritis sebagai inspirasi bagi pendidikan di
NTT. Rendahnya kualitas pendidikan serta meningkatnya angka kemiskinan dan
pengangguran menjadi potret buram masyarakat NTT. Rendahnya kualitas
pendidikan di NTT dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari sarana dan prasarana
yang kurang memadai, rendahnya kompetensi guru dan cara berpikir orang tua yang
masih primitif terhadap pendidikan anak. Hal tersebut terus menjamur dan berakar
kuat dalam dunia pendidikan di NTT. Kebebasan dari peserta didik untuk
mengaktualisasikan potensi diri masih menjadi persoalan di NTT. Daya kritis peserta
didik terhadap realitas sosial masih sangat rendah. Dalam upaya merangsang daya
pikir kritis maka perlu adanya literasi di setiap jenjang pendidikan. Sekolah
merupakan tempat perjuangan dan pemicu perubahan sosial yang bergerak di antara
dua titik, yakni kritik terhadap keadaan masyarakat dan sekaligus harapan untuk
perubahan ke arah yang lebih baik. Hal ini juga menuntut peran dari setiap elemen,
mulai dari pemerintah, pendidik, peserta didik dan juga orang tua demi meningkatkan
kualitas daya kritis peserta didik. Jadi peran pedagogi kritis Henry A. Giroux sangat
penting dan relevan sebab memberikan solusi untuk peningkatan kualitas pendidikan
di NTT.