Abstract :
Dunia modern saat ini
sangat menekankan kebebasan individu. Keyakinan ini
bertolak dari kodratnya manusia yang adalah sama antara satu dengan yang lain. Kebebasan
itu mencakup segala aspek termasuk tidak adanya perbedaan kriteria yang berlandaskan
jenis kelamin D engan kata lain, hubungan antara l aki laki dan perempuan di tengah
kehidupan bermasyarakat jelas sama. Untuk itu, tidak ada pembedaan antara laki laki dan
perempuan. Jika terdapat ketimpanga n fenomena tersebut adalah sebuah ironi k arena
bertentangan dengan anggapan dasar bahwa perlakuan terhadap perempuan dan laki laki
harus sama Oleh karena itu, menempatkan salah satu pihak baik dalam kelompok atau
individu menjadi pribadi yang ordinat dan subordinat sangat tidak relevan.
Akan teta
pi , di tengah situasi dan kondisi yang menekankan kebebasan individu
tersebut, masih terselip ketimpangan. Ketimpangan yang dimaksud adalah praktik patriarki
yang melekat kuat dalam konteks masyarakat tertentu Salah satunya penyebabnya karena
sebagian masyarakat menganggap bahwa sejak awal mula laki laki memang lebih berkuasa
dibandingkan perempuan. Sebagian umum masyarakat beranggapan bahwa k ekuasaan
laki laki adalah sesuatu yang terberi. Sementara itu, perempuan dengan segala aspek
kewanitaannya seperti kele mbutan adalah kodratnya. P erbedaan tersebut menjadikan
perlakuan secara berbeda antara keduanya.
Terhadap kenyataan ini,
salah satu novelis terkenal Nusa Tenggara Timur Maria
Matildis Banda sukses menghasilkan karyanya yang berjudul Wijaya Kusuma dari Kamar
Nomor Tiga. Dari beragam aspek yang disajikan dalam novel tersebut, aspek yang hendak
disoroti oleh penulis adalah praktik patriarki Ada pun tujuan dari tulisan ini antara lain:
Pertama , mendeskripsikan sosok Maria Matildis Banda. Kedua , menjelaskan isi yang
terkandung dalam novel Wijaya Kusuma Dari Kamar Nomor Tiga . Ketiga , merumuskan
dan mendeskripsikan aspek patriarki dalam novel Wijaya Kusuma Dari Kamar Nomor
Tiga . Keempat , menjelaskan dan memaparkan kritik Maria Matildis Banda terhadap praktik
patriarki. Dalam upaya menjawab tujuan penulisan di atas penulis menggunakan metode
kepustakaan untuk mencari dan menemukan sumber perihal novel Wijaya Kusuma Dari
Kamar Nomor Tiga karya Maria Matildis Banda serta konsep patriarki Buku buku dan
media tulisan menjadi sumber utama tulisan ini.
Secara singkat, p
atriarki merupakan sistem yang sudah lama dibangun untuk
menguasai perempuan. Sistem budaya patriarki dimulai dari sistem hukum Yunani dan
Romawi. Sistem ini ada, karena kepercayaan bahwa laki laki adalah penguasa dan
perempuan kodratnya lahir untuk dikuas ai. Kebudayaan ini menyebabkan terjadinya
diferensiasi gender dan determinasi budaya. Perwujudan budaya patriarki dapat dilihat
berupa pembagian peran politik yang diskriminatif, pembagian kerja yang diskriminatif
dan kekerasan seksual ter hadap perempuan. Praktik ini sangat berpengaruh dalam
kehidupan sosial, bidang ekonomi, dalam bidang kehidupan politik dan dunia pendidikan.
Dengan demikian, sesungguhnya praktik patriarki sungguh tidak membebaskan kaum
perempuan di tengah kehidupan yang s emakin menekankan kebebasan dan otonomi diri.
Berdasarkan
pemahaman diatas dapat disimpulkan bahwa patriarki merupakan
masalah, khususnya di tengah dunia yang mengupayakan kebebasan setiap individu.
Terinspirasi dari fakta tersebut penulis mencoba membedahnya secara lebih mendalam
bagian bagian yang disajikan oleh Maria Matildis Banda perihal kritik patriarki