Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan
perbandingan konsep cinta akan Allah dalam kemartiran Yustinus dan dalam seni
mencintai Fromm. Kajian ini bermaksud untuk menguraikan dan menjelaskan
praktik cinta Allah yang ideal dan relevan untuk dipraktikkan dalam mencintai.
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah analitis kritis dan deskriptif .
Pendekatan analitis kritis yakni menggunakan konsep cinta martiria dan cinta
altruistis untuk mengetahui praktik yang benar dalam menci nta i Allah dan sesama.
Selain itu itu, pendekatan deskriptif dimaksudkan untuk memaparkan realitas konkret tentang praktik cinta akan Allah dalam kehidupan beriman.
Konsep cinta akan Allah dalam kemartiran Yustinus dan dalam seni
mencintai Fromm bersumber pada gagasan khas moral Kristen. Yustinus mendasari
konsepnya tentang cinta akan Allah berdasarkan praktik cinta mar tiria dalam ajaran
moral Kristen. Yustinus menilai bahwa cinta martiria adalah p raktik yang paling
ideal dan relevan untuk mencintai Allah dan sesama dengan tulus, total, tanpa syarat
dan penuh pengorbanan. Alasannya karena cinta martiria adalah praktik cinta yang
tidak takut pada penderitaan dan kemati an dalam bersaksi tentang kebenaran Allah.
Berdasarkan keyakinannya ini Yustinus pun mengorbankan dirinya mati sebagai
martir. Kemartirannya dianggap sebagai ungakapan cinta paling total dan radikal
dari manusia kepada Allah sebagai pemberi hidup. Sedangka n Fromm
mengonsepsikan cinta akan Allah berdasarkan praktik cinta altruistik. Fromm
melihat praktik cinta altruistik sebagai praktik yang ideal dan relevan karena dalam
cinta ini manusia dapat mencintai sesamanya dengan tulus dan tanpa syarat.
Alasannya ci nta altruistik dalam mencintai selalu mementingkan kebersamaan
daripada kepentingan pribadinya atau orang tertentu. Praktik cinta altruistik dalam
realitas kehidupan manusia terealisasi dalam praktik cinta ibu dalam mencintai
anak anaknya. Itulah sebabnya karakter altruistik yang tidak mementingakan diri
sendiri membuat cinta ibu dianggap sebagai jenis cinta yang paling tinggi, dan
paling luhur di antara semua ikatan emosional.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa praktik cinta akan Allah
dalam kemartiran Yustinus dan dalam Fromm adalah praktik cinta yang ideal dan
relevan sebagai model dalam mencintai Allah dan sesama. Praktik cinta martiria
dan cinta altruistik dipan dang sebagai cinta yang total, tanpa syarat dan penuh
pengorbanan dalam mencintai. Dalam kedua model cinta ini juga manusia
dibebaskan dari egoisme, cinta pamrih dan segala kelemahan manusiawinya
sehingga membuat manusia dapat saling mengasihi satu sama la in dengan cinta
yang tulus, tanpa syarat dan tidak membeda bedakan.