Abstract :
Skripsi ini berusaha menjelaskan pentingnya makna warisan budaya relasi
intersubjektivitas melalui budaya reis, ruis, raes dan raos dalam kebudayan masyarakat desa
Rura dalam terang ensiklik Fratelli Tutti. Dialog dan solidaritas sosial dalam budaya reis, ruis,
raes, dan raos memiliki makna persaudaran, persatuan, kepekaan sosial. Untuk itu melalui
praktik budaya ini, masyarakat desa Rura mampu menyadarai serta mengangkat nilai nilai
kemanusiaan dalam setiap perjumpaan dengan sesama.
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan utama, yakni 1) penelitian ini berusaha
memahami konsep dan makna kebudayaan reis, ruis, raes dan raos di masyarakat desa Rura
dalam suatu kajian ilmiah. 2) menjelaskan relevansi antara budaya reis, ruis, raes, dan r aos
pada masyarakat desa Rura dalam terang ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus. 3)
menampilkan realitas kebiasaan masyarakat desa Rura dalam mempraktikan budaya reis, ruis,
raes dan raos.
Dalam menulis skripsi ini, peneliti menggunakan
metode penelitian kualitatif.
Instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara dengan informan yang miliki
pengetahuan luas tentang budaya reis, ruis, raes dan raos. Informan tersebut terdiri atas tokoh
adat, tokoh masyarakat, pemerintah desa Rura, tokoh muda, dan pastor paroki setempat. Dalam
penelitian kualitatif, peneliti mencari dan mengumpulkan data dari dokumen dokumen, buku
buku ilmiah, jurnal, berita dari internet agar mampu menjelaskan nilai n ilai kebudayaan reis,
ruis, raes dan raos.
Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa budaya 4R (reis, ruis, raes dan raos) merupakan
salah satu warisan budaya masyarakat Manggarai yang bertujuan unutk menciptakan
persudaraan dan persahabatan sosial seperti yang diterangkan dalam ensiklik Fratelli Tutti .
Praktik kebudayaan 4R, reis, ruis, raes dan raos, ini menampilkan ciri khas keutamaan relasi
dalam hidup bermasyarakat seperti persatuan, persahabatan, persaudaran, kepeduliaan, dan
menjunjung tinggi keadilan sosial. Menyapa (Reis) sebagai bentuk Keterbu kaan dan
Kemurahan Hati, mendekati (Ruis) sebagai bentuk keterlibatan dalam Persaudaraan,
menemani (Raes) sebagai bentuk kedekatan atau keakraban dan merangkul (Raos) sebagai
tanda persahabatan dan persaudaraan sejati. Dalam penelitian ini juga, ditemukan bahwa
budaya 4R dalam kehidupan masyarakat desa Rura sekarang ini sudah jarang dihidupi. Hal ini
disebabkan oleh perkembangan arus globalisasi. Pengaruh iini turut menghambat masyarakat
dalam menghidupi semangat budaya perjumpaan melalui 4R. Oleh karena i tu, berhadapan
dengan realitas ini, diperlukan kesadaran masyarakat untuk terus menghidupi semangat
perjumpan dalam kasih melalui budaya 4R. Dengan demikian, peneliti sangat mengharapkan
masyarakat desa Rura menyadari kehadiran orang lain sebagai perjumpan kasih bagi
kehidupannya.