Abstract :
Tujuan utama dari studi ini adalah menemukan komunitas interkultural dalam
konsep natas bate labar pada masyarakat kampung Timung, Desa Golo Cador dan
relevansinya bagi dialog interkultural dalam Gereja Katolik. Tujuan utama tersebut
dicapai melalui beberapa langkah kerja berikut; pertama, mendeskripsikan
gambaran umum tentang kampung Timung. Pada bagian ini, penulis juga
menjelaskan konsep natas bate labar menurut masyarakat Manggarai pada
umumnya dan masyarakat Timung pada khususnya. Kedua, menjelaskan tentang
komunitas interkultural. Ketiga, menggali nilai-nilai interkultural dalam natas bate
labar dalam terang komunitas interkultural. Komunitas interkultural dijadikan
sebagai pijakan teoretis dan bingkai analisis. Metode yang dipakai dalam penelitian
ini adalah penelitian lapangan dan studi kepustakaan. Pada penelitian lapangan,
riset ini menggunakan metode observasi partisipatoris, wawancara, dan kuesioner.
Sedangkan penelitian kepustakaan dilakukan dengan mendalami berbagai literatur
yang berkaitan dengan komunitas interkultural.
Berdasarkan hasil kajian mengenai komunitas interkultural dalam konsep
natas bate labar pada kebudayaan masyarakat kampung Timung, ditemukan bahwa
komunitas interkultural telah dihidupi dan dijalankan dalam natas bate labar pada
kebudayaan masyarakat kampung Timung. Masyarakat kampung Timung melihat
natas bate labar sebagai ruang perjumpaan dari berbagai keberagaman. Dalam
perjumpaan itu, nilai-nilai interkultural seperti pengakuan, penerimaan,
penghormatan terhadap budaya (suku) lain, interaksi timbal balik (resiprokal),
keterbukaan, kesetaraan, dan dialog menjadi kekuatan utama dari masyarakat
kampung Timung dalam membangun sebuah komunitas masyarakat yang damai
dan harmonis. Namun, selalu saja muncul tantangan yang mewarnai kehidupan
komunitas interkultural tersebut, seperti munculnya konflik, diskriminasi dan
perpecahan. Berkenaan dengan itu, melalui studi ini penulis hendak menegaskan
bahwa masyarakat kampung Timung harus tetap memaknai natas bate labar
sebagai ruang untuk merayakan keberagaman. Di dalamnya, masyarakat kampung
Timung dapat meningkatkan pembelajaran dan pertumbuhan, inovasi dan
kreativitas, peningkatan toleransi dan pemahaman antarkelompok. Lebih jauh dari
itu, nilai-nilai interkultural dapat menjadi kekuatan bagi Gereja Katolik dalam
membangun relasi dengan budaya-budaya. Sikap-sikap yang perlu dihidupi ialah
terbuka terhadap budaya, mengedepankan prinsip kesetaraan, mengakui dan
menghargai budaya, berdialog dengan budaya. Pada akhirnya, nilai interkultural
juga dapat menjadi kekuatan untuk menjawabi berbagai konflik yang terjadi di
dalam Gereja.