DETAIL DOCUMENT
Komunitas Interkultural dalam Konsep Natas Bate Labar pada Kebudayaan Masyarakat Kampung Timung Desa Golo Cador dan Relevansinya terhadap Dialog Interkultural dalam Gereja Katolik
Total View This Week0
Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
PANTAS, Albertus Asteri
Subject
305 Kelompok-kelompok sosial 
Datestamp
2024-08-14 23:39:22 
Abstract :
Tujuan utama dari studi ini adalah menemukan komunitas interkultural dalam konsep natas bate labar pada masyarakat kampung Timung, Desa Golo Cador dan relevansinya bagi dialog interkultural dalam Gereja Katolik. Tujuan utama tersebut dicapai melalui beberapa langkah kerja berikut; pertama, mendeskripsikan gambaran umum tentang kampung Timung. Pada bagian ini, penulis juga menjelaskan konsep natas bate labar menurut masyarakat Manggarai pada umumnya dan masyarakat Timung pada khususnya. Kedua, menjelaskan tentang komunitas interkultural. Ketiga, menggali nilai-nilai interkultural dalam natas bate labar dalam terang komunitas interkultural. Komunitas interkultural dijadikan sebagai pijakan teoretis dan bingkai analisis. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan dan studi kepustakaan. Pada penelitian lapangan, riset ini menggunakan metode observasi partisipatoris, wawancara, dan kuesioner. Sedangkan penelitian kepustakaan dilakukan dengan mendalami berbagai literatur yang berkaitan dengan komunitas interkultural. Berdasarkan hasil kajian mengenai komunitas interkultural dalam konsep natas bate labar pada kebudayaan masyarakat kampung Timung, ditemukan bahwa komunitas interkultural telah dihidupi dan dijalankan dalam natas bate labar pada kebudayaan masyarakat kampung Timung. Masyarakat kampung Timung melihat natas bate labar sebagai ruang perjumpaan dari berbagai keberagaman. Dalam perjumpaan itu, nilai-nilai interkultural seperti pengakuan, penerimaan, penghormatan terhadap budaya (suku) lain, interaksi timbal balik (resiprokal), keterbukaan, kesetaraan, dan dialog menjadi kekuatan utama dari masyarakat kampung Timung dalam membangun sebuah komunitas masyarakat yang damai dan harmonis. Namun, selalu saja muncul tantangan yang mewarnai kehidupan komunitas interkultural tersebut, seperti munculnya konflik, diskriminasi dan perpecahan. Berkenaan dengan itu, melalui studi ini penulis hendak menegaskan bahwa masyarakat kampung Timung harus tetap memaknai natas bate labar sebagai ruang untuk merayakan keberagaman. Di dalamnya, masyarakat kampung Timung dapat meningkatkan pembelajaran dan pertumbuhan, inovasi dan kreativitas, peningkatan toleransi dan pemahaman antarkelompok. Lebih jauh dari itu, nilai-nilai interkultural dapat menjadi kekuatan bagi Gereja Katolik dalam membangun relasi dengan budaya-budaya. Sikap-sikap yang perlu dihidupi ialah terbuka terhadap budaya, mengedepankan prinsip kesetaraan, mengakui dan menghargai budaya, berdialog dengan budaya. Pada akhirnya, nilai interkultural juga dapat menjadi kekuatan untuk menjawabi berbagai konflik yang terjadi di dalam Gereja. 
Institution Info

INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO