Abstract :
Penulisan ini bertujuan untuk: pertama, menjelaskan arisan pembangunan pada KUB-KUB di Lingkungan Santo Yohanes Pemandi Ratesuba. Kedua, menjelaskan kontribusi arisan pembangunan bagi pembangunan gedung gereja Paroki Ratesuba. Ketiga, menjelaskan isi Kisah Para Rasul 2:41-47 yang berbicara tentang cara hidup Jemaat Perdana. Keempat, menjelaskan kegiatan arisan pembangunan dalam terang cara hidup Jemaat Perdana (Kis 2:41-47). Kelima, menjelaskan implikasi dari kegiatan arisan pembangunan dalam terang cara hidup Jemaat Perdana bagi karya pastoral Gereja.
Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode penelitian kualitatif melalui studi kepustakaan dan penelitian lapangan. Studi kepustakaan terfokus pada ulasan teks Kis. 2:41-47 yang berbicara tentang cara hidup Jemaat Perdana. Penelitian lapangan memakai metode wawancara terhadap para informan kunci dan metode Focus Group Discussion (FGD) terhadap ketiga KUB dalam Lingkungan Santo Yohanes Pemandi Ratesuba. Data dari wawancara dan FGD dianalisis dan dan dilengkapi dengan studi terhadap dokumen-dokumen yang tersedia.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, pertama kegiatan arisan pembangunan pada KUB-KUB di Lingkungan Santo Yohanes Pemandi Ratesuba memberikan kontribusi bagi pelaksanaan pembangunan gedung gereja Paroki Ratesuba. Melalui kegiatan arisan pembangunan, umat Lingkungan Santo Yohanes Pemandi Ratesuba secara bersama-sama mampu melunaskan dana pembangunan gedung gereja Paroki Ratesuba pada waktunya. Hal ini didukung juga dalam data keuangan panitia per Oktober 2023 yang menunjukkan bahwa umat Lingkungan Santo Yohanes Pemandi Ratesuba menjadi satu-satunya lingkungan dalam Stasi Ratesuba yang telah melunaskan seluruh tahapan pembayaran dana pembangunan yang diwajibkan kepada umat. Kedua, dalam terang cara hidup Jemaat Perdana menurut Kis. 2:41-47, kegiatan arisan pembangunan umat pada KUB-KUB di Lingkungan Santo Yohanes Pemandi Ratesuba menjadi inspirasi bagi karya pastoral Gereja. Nilai-nilai seperti persekutuan doa, kepedulian seorang pemimpin, sinodalitas, solidaritas, saling percaya, meningkatkan etos kerja dan pemetaan skala prioritas kebutuhan hidup, menjadi pegangan dalam kehidupan menggereja. Nilai-nilai ini kendatipun ditemukan dalam kelompok kecil, tetapi semangat dan cara hidupnya dapat memberikan implikasi positif jika diusahakan oleh Gereja melalui karya pastoralnya. Usaha-usaha yang bisa dilakukan Gereja adalah membangun persekutuan doa secara rutin dalam komunitas kristiani, melakukan pengkaderan fungsionaris pastoral awam dengan baik, menciptakan iklim sinodal dan solider di antara umat, membangun sikap saling percaya dan menciptakan skala prioritas yang tepat dalam diri umat. Melalui usaha ini, Gereja dapat memberikan kontribusi bagi komunitas-komunitas pastoralnya agar dapat mengembangkan kehidupan rohani dan jasmani yang seimbang.