Abstract :
Islamisme merupakan salah satu tantangan utama di Indonesia. Konsep
pluralisme agama John Hick amat relevan untuk dijadikan sebagai landasan
diskursus filosofis dalam usaha mengkritik Ideologi Islamisme. Tesis ini bertujuan
untuk (1) menjelaskan konsep pluralisme agama John Hick (2) mendeskripsikan
dan menjelaskan Ideologi Islamisme yang menjadi tantangan utama di Indonesia,
dan (3) menguraikan kritik dari perspektif pluralisme agama John Hick terhadap
Ideologi Islamisme di Indonesia.
Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Objek yang diteliti dan
dibahas adalah konsep pluralisme agama John Hick dan Ideologi Islamisme di
Indonesia. Penulis berusaha mengeksplorasi pelbagai sumber seperti buku-buku,
majalah-majalah, jurnal-jurnal ilmiah, kamus, artikel-artikel dalam internet dan
pelbagai sumber lainnya seperti manuskrip dan pelbagai digital platform yang
secara khusus menjelaskan topik yang sedang didalami dalam karya ilmiah ini.
Studi ini menemukan beberapa hal berikut. 1) Konsep pluralisme agama John
Hick dinyatakan dalam hipotesis pluralistik bahwa agama-agama besar dunia
mewujudkan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan dengan demikian
tanggapan yang berbeda terhadap, Yang Nyata dari dalam varian utama cara budaya
menjadi manusia; dan bahwa di dalam masing-masing dari mereka transformasi
eksistensi manusia dari berpusat pada diri sendiri ke berpusat pada Realitas secara
nyata sedang terjadi. 2) Hick menggunakan Epistemologi I. Kant untuk
membedakan antara Yang Nyata noumenon dan Yang Nyata fenomenon. 3) Ideologi
Islamisme memperjuangkan moralisasi politik berdasarkan keunggulan moral
agama Islam. Islamisme mengandung beberapa pemikiran ideologis yang telah
menyebar dan mempengaruhi orang-orang di pelbagai belahan dunia termasuk
Indonesia. Islamisme telah mempengaruhi dinamika perjalanan bangsa Indonesia.
4) Berdasarkan konsep pluralisme agama John Hick, klaim bahwa Islam adalah
agama yang benar dan satu-satunya akses menuju keselamatan dalam Islamisme
dinilai tidak realistis, karena dalam agama lain juga terdapat
keselamatan/pembebasan dan juga nilai-nilai moral yang memandu tingkah laku
manusia. Islamisme juga dikritik karena mengabsolutkan klaim yang bersifat
relatif, yaitu penafsiran manusia yang terbatas terhadap wahyu Allah. Selain itu,
Islamisme dikritik karena gagasan konstruksi identitas eksklusif yang terkandung
di dalamnya amat problematis. Identitas suatu tradisi agama terbentuk hanya dalam
keterbukaan dan dialektika dengan lingkungan budaya. Upaya pencegahan
dilakukan baik pada tataran teoritis maupun praksis melalui kerja sama setiap
elemen bangsa.