Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
JEBAU, Julius Kardi Hatom
Subject
321 Sistem pemerintahan dan sistem negara
Datestamp
2024-08-14 23:48:45
Abstract :
Studi ini bertujuan untuk menjelaskan sejauh mana Pancasila dapat
memberikan konstribusi positif bagi agama-agama dalam berteologi pada era
postsekular di negara Indonesia yang plural. Tujuan utama tersebut dicapai
melalui beberapa langkah kerja berikut: (1) mengulas perkembangan ide tentang
sekularisme dan postsekularisme dalam pelbagai diskursus di dunia dan menggali
dan menguraikan perkembangan paham sekularisme dan postsekularisme dalam
konteks negara Indonesia, serta sejarah perumusan Pancasila; (2) menggali
realitas tantangan berteologi di Indonesia sebagai negara demokratis, yang bagi
penulis terletak pada kuatnya politik identitas (radikalisme agama) dan kenyataan
pluralitas pandangan hidup (khususnya keagamaan) di Indonesia; (3) menelisik
model berteologi yang sesuai dengan konteks Indonesia sebagai negara yang
terdiri dari banyak agama dan kepercayaan. Pancasila sebagai dasar negara
dijadikan sebagai pijakan teoretis dan analisis. Metode yang digunakan dalam
tulisan ini adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan dengan
menganalisis data primer dan sekunder.
Dewasa ini tantang yang dihadapi Indonesia sebagai negara demokrasi
adalah kuatnya sentimen primordial dalam kehidupan keagamaan. Berakhirnya
rezim represif Orde Baru menjadi musim semi bagi kebangkitan agama-agama
yang sangat kuat dipengaruhi oleh sentimen keagamaan. Kuatnya sentimen
religius itu nampak dalam model penghayatan keagamaan yang dilandasi oleh
klaim kebenaran tunggal, formalisme penafsiran teks-teks suci, dan penolakan
atas pluralitas. Model keagamaan seperti ini mengabaikan aspek rasionalitas iman.
Ada krisis penalaran publik dalam kehidupan keagamaan. Model berteologi yang
terlampau mengedepankan aspek emosional berpretensi mengkotak-kotakkan
masyarakat. Untuk itu tuntutan penggunaal akal budi dalam kehidupan keagamaan
bertujuan agar kebenaran-kebenaran iman itu dapat direfleksikan dan dikritisi,
sehingga terlepas dari kecendrungan politik identitas (radikalisme) dan
mencederai pluralitas.
Model keagamaan yang dituntut dalam negara plural Indonesia adalah
kerjasama dan komplementer antara iman dan akal budi, sehingga terlepas dari
kecendrungan rasionalisme dan fideisme. Dasar yang memungkinkan kerjasama
dan komplementer itu adalah Pancasila. Pada titik inilah muncul gagasan
pancateologi, yaitu tuntuan model berteologi yang sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila (keindonesiaan). Pancasila sebagai produk kultur bangsa Indonesia
mendorong bentuk penghayatan keagamaan (teologi) yang yang mendepankan
aspek kekeluargaan, inklusif, dan harmoni. Hal ini sekaligus memberi ruang agar
ethos memiliki andil dalam membangun demos.