Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan konsep media sosial dalam
terang dekrit Inter Mirifica, memberikan gambaran umum tentang Paroki Sta.
Maria diangkat ke Surga Rejeng, menjelaskan konsep Orang Muda Katolik serta
partisipasi dalam kehidupan menggereja, (2) menjelaskan pengaruh media sosial
bagi Orang Muda Katolik Paroki Rejeng, menjelaskan faktor penghambat dan
pendukung Orang Muda Katolik Paroki Rejeng, menjelaskan upaya mengatasi
faktor penghambat Orang Muda Katolik Paroki Rejeng dalam kehidupan
menggereja, (3) menunjukkan relevansi dekrit Inter Mirifica tentang media sosial
bagi karya pastoral kaum muda di Paroki Rejeng. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan
penelitian kepustakaan dan lapangan. Pendekatan penelitian kepustakaan
dilakukan dengan mendalamai berbagai literatur, sedangkan pendekatan penelitian
lapangan dilakukan dengan membuat wawancara dengan pihak-pihak terkait.
Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa media sosial masih
bersifat ambivalen bagi Orang Muda Katolik Paroki Rejeng. Media sosial pada
satu sisi memudahkan Orang Muda Katolik untuk mengakses informasi,
berinteraksi antar-pribadi dan kelompok, menghibur diri, mewartakan Injil dan
ruang kreativitas. Namun, pada sisi lain, kehadiran media sosial membuat Orang
Muda Katolik kurang mengontrol diri seperti menurunnya komunikasi
interpersonal secara langsung, menurunnya partisipasi dalam hidup menggereja
dan melahirkan budaya konsumerisme. Berhadapan dengan ambivalensi media
sosial ini, Gereja melalui dekrit Inter Mirifica mengajak Orang Muda Katolik
Paroki Rejeng untuk menjadi ?gembala yang baik? di era digital ini dengan
menggunakan media sosial sebagai anugerah Allah, media pewartaan iman, dan
sarana edukasi serta informasi yang baik dan benar. Salah satu kebaruan dalam
penelitian ini ialah media sosial bukanlah satu-satunya faktor penyebab
merosotnya partisipasi Orang Muda Katolik Paroki Rejeng dalam kehidupan
menggereja. Ada faktor lain yang mempengaruhi partisipasi OMK dalam
kehidupan menggereja seperti keluarga, figur pemimpin, masyarakat dan Orang
Muda Katolik itu sendiri.