Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
VERDINANDO, Siprianus Veritas
Subject
265 Sakramen dan ritual lain dalam Kristen
Datestamp
2024-08-15 00:00:34
Abstract :
Penulisan tesis ini bertujuan untuk: (1) memaparkan sekilas mengenai
masyarakat Desa Pogon Krowe dan mengulas makna upacara ro'a mu'u wua yang
terdapat di dalamnya; (2) menjelaskan secara komprehensif pandangan Gereja
Katolik tentang perkawinan dan teologi sakramen perkawinan; (3) menguraikan
perbandingan makna upacara ro'a mu'u wua dengan teologi perkawinan Gereja
Katolik dan menjelaskan relevansi bagi karya pastoral Gereja.
Metode yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah metode kuantitatif
dengan mengadakan wawancara langsung di lapangan tentang upacara ro'a mu'u
wua. Penulis juga mengeksplorasi sumber-sumber seperti artikel, buku-buku,
kamus, dokumen-dokumen Gereja dan jurnal untuk mengkaji secara mendalam
tentang dan teologi perkawinan Gereja.
Berdasarkan hasil kajian ditemukan beberapa hal berikut. 1) Upacara ro'a mu'u wua
merupakan salah satu tahapan dalam ritus perkawinan adat mulia kawit
gete pada masyarakat Desa Pogon Krowe. menegaskan tentang
persatuan relasi cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Upacara ro'a mu'u wua ini juga
dipahami sebagai perwartaan kepada masyarakat bahwa kedua pasangan sudah sah
terikat oleh janji perkawinan secara adat dan secara sakramental. Inti upacara ro'a mu'u wua
ialah atraksi pemotongan pisang (mu'u ) dan pinang (wua) yang menjadi
simbol laki-laki dan perempuan dan memiliki makna kesuburan, kesetaraan
martabat, kesucian, dan cinta kasih laki-laki dan perempuan menurut masyarakat
Desa Pogon. 2) Dasar refleksi teologi perkawinan Gereja Katolik terletak pada tata
penciptaan dan penebusan. Tata penciptaan menjelaskan tentang kesatuan laki-laki
dan perempuan serta amanat Allah untuk mengembangkan keturunan dalam kisah
penciptaan. Sementara itu tata penebusan perkawinan ditegaskan sebagai bentuk
perjanjian baru yaitu gambaran relasi cinta kasih antara Kristus dan Gereja-Nya
yang tidak pernah berakhir, maka perkawinan antara orang-orang yang dibaptis
adalah sakramen karena membawa keselamatan. 3) Bertolak dari hasil
perbandingan terdapat kesamaan dan perbedaan antara makna dan
teologi perkawinan Gereja Katolik. Kesamaan antara keduanya terletak pada makna
kesuburan atau berketurunan, kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan dan
cinta kasih suami dan isteri. Perbedaan antara keduanya terletak pada
ketidaksesuaian makna dan refleksi teologis perkawinan tentang perjanjian,
kesetiaan, dan kesucian perkawinan. Meskipun demikian perbandingan antara
keduanya memiliki relevansi bagi pastoral katekese perkawinan dan kemungkinan
inkulturasi. Keduanya penting untuk menanamkan nilai-nilai Kristiani dan
membantu umat untuk memahami bahwa di dalam budaya juga terdapat nilai-nilai
dan makna-makna yang sesuai dengan ajaran teologi perkawinan Gereja Katolik
serta melestarikan upacara ro'a mu'u wua