Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan problem pembangunan pariwisata super premium Labuan Bajo, (2) merumuskan model teologi roéng dengan perspektif teologi pembebasan, (3) menjelaskan peran teologi roéng sebagai model teologi pembebasan di Keuskupan Ruteng dalam pembangunan pariwisata super premium Labuan Bajo.
Pariwisata memiliki beragam efek. Secara positif, pariwisata membuka lapangan pekerjaan baru, mendorong pengembangan UMKM dan meningkatkan pendapatan ekonomi. Pada saat yang sama, pembangunan pariwisata menjadi karpet merah privatisasi aset-aset publik dan pencaplokan tanah masyarakat adat. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui riset lapangan dan studi kepustakaan, penelitian ini menemukan beberapa hal penting. Pertama, pembangunan pariwisata di Labuan Bajo berwatak neoliberal. Alih-alih membuat kondisi masyarakat menjadi lebih baik, pembangunan justru mengarah pada dominasi, marjinalisasi dan eksploitasi masyarakat lokal. Kedua, teologi roéng menjadi sebuah model teologi pembebasan di Manggarai. Ketiga, dalam tiga model studi kasus pariwisata super premium, hierarki Gereja Katolik Keuskupan Ruteng belum berdimensi pembebasan.
Sejumlah peneliti telah menganalisis pariwisata dan pembangunan di Labuan Bajo dari perspektif ekonomi politik, turisme, psikologi dan sosiologi. Penelitian ini menggunakan perspektif teologi pembebasan. Kebaruan dalam riset ini ialah perumusan teologi roéng yang terinspirasi dari khazanah gagasan teologi pembebasan. Walaupun demikian, teologi roéng memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan konteks patronase dalam budaya Manggarai. Teologi roéng tidak hanya bergumul dalam refleksi teologis, tetapi berdimensi transformatif melalui gerakan perlawanan terhadap model pembangunan yang mengorbankan orang-orang miskin. Inspirasi utama teologi roéng ialah sikap hidup Yesus yang selalu membela hak-hak orang miskin. Penerapan teologi roéng di Manggarai menjadi tugas hierarki Gereja Keuskupan Ruteng. Teologi roéng menjadi sebuah alternatif gerakan kiri progresif dalam Gereja Keuskupan Ruteng berhadapan dengan persoalan pembangunan pariwisata super premium di Labuan Bajo.