Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
KELEN, Yoseph Norbertus Pehan
Subject
265 Sakramen dan ritual lain dalam Kristen
Datestamp
2024-08-15 00:04:15
Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil perbandingan dari ritus
kaweng gate dalam kebudayaan masyarakat Lewoloba dengan ritus perkawinan
Katolik sehingga memungkinkan adanya inkulturasi liturgi perkawinan.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif. Objek
yang diteliti ialah perbandingan ritus kaweng gate dalam kebudayaan masyarakat
Lewoloba dan ritus perkawinan Katolik serta kemungkinan inkulturasi liturgi
perkawinan. Sumber data utama penelitian ini adalah hasil wawancara langsung
(key-informant-interviewing) dengan para tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh
agama Katolik sebagai informan kunci. Data juga diperoleh dari informal talk
dengan narasumber di luar informan kunci. Sumber data sekunder diperoleh dari
aneka literatur terdahulu yang sesuai dengan fokus penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan empat pokok berikut. Pertama,
terdapat unsur yang sama dari perbandingan ritus kaweng gate dan ritus
perkawinan Katolik yakni, Wujud Tertinggi, kedua mempelai dalam perkawinan,
communio/persekutuan, hukum perkawinan dan tahapan-tahapan perkawinan.
Terdapat pula unsur yang berbeda seperti, lokasi, waktu, dan perayaan/pesta
perkawinan, peran pemimpin upacara dan bahasa atau simbol-simbol yang
digunakan. Kedua, terdapat unsur-unsur yang cocok dan baru dari persamaan dan
beberapa unsur simbolis dari perbedaan kedua ritus yang dapat dimasukkan ke
dalam perayaan perkawinan inkulturatif. Ketiga, ada dua kemungkinkan
inkulturasi liturgi perkawinan yang ditemukan, yakni (1) perayaan perkawinan
dalam misa dengan memasukkan unsur-unsur inkulturatif kaweng gate yang
berpedoman pada asas-asas inkulturasi liturgi perkawinan dalam Sacrosanctum
Concilium no. 77-78, OCM no. 12-18 dan rubrik yang ditawarkan Tata Perayaan
Perkawinan Indonesia, (2) ritus kaweng gate sebagai ritus perkawinan inkulturatif
yang bertitik tolak dari tata upacara ritus kaweng gate. Keempat, dari dua
kemungkinan inkulturasi liturgi perkawinan ini, penulis menawarkan contoh
praktis Tata Perayaan Perkawinan Inkulturatif kepada Konferensi Waligereja dan
uskup setempat untuk dipertimbangkan, diresmikan dan dapat dirayakan oleh para
pelayan Gereja dan pemimpin adat sehingga mengantar kedua mempelai
mengalami kehadiran Allah dan mengerti arti terdalam dari ikatan perkawinan
yang mereka lakukan di dalam budayanya.