Abstract :
Tulisan ilmiah ini memiliki beberapa tujuan, yakni: (1) menjelaskan penokohan Tan Malaka
selama masa perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia di bawah cita-cita Merdeka Seratus
Persen; (2) menguraikan gerakan-gerakan kiri Tan Malaka sebagai tokoh nasionalis-liberalis yang
anti terhadap gerakan diplomasi dan kompromi dalam mencapai kemerdekaan; (3) menjelaskan
fakta kolonialisme dan neokolonialisme di Indonesia; dan (4) menganalisis spirit gerakan kiri Tan
Malaka dalam usaha melawan praktik neokolonialisme bagi masyarakat sipil di Indonesia.
Penulis menemukan bahwa, praktik penjajahan di Indonesia pada masa lalu terjadi dalam dua
bentuk yakni imperialisme oleh negara lain dan feodalisme oleh bangsawan pribumi. Praktik ini
ditentang oleh Tan Malaka secara radikal sehingga membuatnya ditangkap, diawasi, dipenjara
berkali-kali hingga dieksekusi. Namun Tan Malaka bukanlah seorang anarkis, melainkan tokoh
kritis yang dimiliki bangsa Indonesia. Dengan gerakan kiri, ia menolak berdamai dan bekerja sama
atau bahkan berunding dengan para penjajah. Ia lebih memilih perjuangan dengan kekuatan massa
rakyat meskipun harus bertaruh nyawa. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia haruslah diraih oleh
perjuangan rakyat Indonesia sendiri, bukan atas hadiah dari para penjajah.
Ternyata, praktik penjajahan yang ditentang Tan Malaka itu tidak berakhir dengan pengakuan atas
kedaulatan Indonesia. Praktik itu justru berubah bentuk menjadi penjajahan baru
(neokolonialisme) yang berkaitan dengan praktik dalam sistem pasar bebas (neoliberalisme dan
kapitalisme) dan meluas kepada praktik KKN, perampasan hak atas tanah, pembatasan hak
berserikat, berpendapat, dan beragama, serta praktik-praktik ketidakadilan lainnya. Lahirnya
Omnibus Law, UU ITE, dan pengesahan aturan mengenai batas minimal usia calon presiden dan
wakil presiden adalah bentuk neokolonialisme yang merusak demokrasi. Satu alasan
neokolonialime ini terus berlangsung adalah kurangnya gerakan kiri dari kelompok oposisi. Oleh
karena itu, keterlibatan masyarakat sipil khususnya kampus sangatlah diperlukan untuk
menjalankan fungsi check and balance yang terkesan ditinggalkan oleh oposisi dalam
pemerintahan atau parlemen.
Adapun metode yang penulis gunakan dalam kajian ini adalah analitis-kualitatif. Dengan metode
ini, penulis membaca sumber-sumber primer dari Tan Malaka sendiri serta penelitian tentangnya.
Selain itu, penulis juga mendalami catatan dan analisis para pakar politik dan ekonomi yang
tersebar dalam buku-buku, jurnal dan opini internet untuk memperluas kajian mengenai gerakan
kiri Tan Malaka dan neokolonialisme. Pada akhirnya, penulis berpendapat bahwa gerakan kiri Tan
Malaka dalam memperjuangkan Merdeka Seratus Persen pada masa lalu dapat menjadi spirit
perjuangan oposisi dari masyarakat sipil pada masa ini untuk melawan neokolonialisme.