DETAIL DOCUMENT
Kritik Modernitas Menurut Jürgen Habermas dan Sumbangannya bagi Pembentukan Jati Diri Manusia Indonesia
Total View This Week0
Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
LAKA, Vinsensius
Subject
100 Filsafat dan psikologi 
Datestamp
2022-11-24 06:29:37 
Abstract :
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk (1) menjelaskan modernitas secara umum sebagai suatu paradigma kebudayaan yang berkembang di Eropa dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia, (2) menjelaskan kritik modernitas menurut Jürgen Habermas yang didasarkan pada opus magnum-nya Theorie des Kommunikativen Handelns yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Teori Tindakan Komunikatif, dan (3) menjelaskan relevansi kritik modernitas menurut Jürgen Habermas bagi pembentukan jati diri manusia Indonesia. Metode penulisan yang dipakai dalam penulisan karya ilmiah ini adalah metode kepustakaan. Penulis mempelajari karya Habermas Teori Tindakan Komunikatif untuk menemukan kritik Habermas atas modernitas. Penulis juga dilengkapi dengan buku-buku, jurnal-jurnal, manuskrip, dan media online yang menunjang penulisan karya ilmiah ini. Berdasarkan penelitian kepustakaan tersebut ditemukan bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya tengah mengalami proses modernisasi. Selain itu, modernitas juga memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif berupa penemuan akan subjektivitas, rasionalitas, dan refleksivitas. Sementara dampak negatifnya berupa subjektivisme, rasionalisme, dan refleksivitas yang berkutat seputar teori ketimbang praksis. Jürgen Habermas mengkritisi dampak-dampak positif dan negatif modernitas tersebut untuk melampauinya dalam arti merekonstruksi modernitas yang mendapat serangan dari kuam postmodernis. Menurut Habermas, rasionalitas yang dominan dalam perkembangan modernitas adalah rasionalitas instrumental. Rasionalitas ini berintensi mengobjekkan yang lain sehingga bersifat satu sisi. Relasi yang tercipta adalah relasi yang monologis. Di sana tidak tercipta relasi yang dialogis. Ironisnya, rasionalitas instrumental ini mengkolonisasi dunia kehidupan yang didasarkan pada saling pemahaman. Oleh karena itu, tema rasionalitas komunikatif tidak muncul dalam perkembangan modernitas. Jürgen Habermas mengangkat tema rasionalitas komunikatif ini. Rasionalitas komunikatif ini didasarkan pada saling pemahaman dan keterbukaan terhadap kritik dan kritik diri. Rasionalitas komunikatif ini menciptakan relasi yang dialogis dan bebas paksaan. Rasionalitas ini didasarkan pada dunia kehidupan. Dengan demikian, baik rasionalitas instrumental maupun rasionalitas komunikatif kini bersifat terbuka terhadap dunia kehidupan. Rasionalitas kini hanya dapat dilangsungkan dalam situasi komunikatif. Komunikatif berarti suatu tindakan dilakukan dengan alasan-alasan yang berdasar dan masuk akal serta terbuka terhadap tanggapan ?ya? dan ?tidak? dari subjek lain yang terlibat dalam dunia kehidupan bersama tersebut. Tanggapan subjek lain itu juga dilakukan dengan alasan-alasan yang berdasar dan masuk akal. Di sini, terbuka kesempatan untuk saling belajar dan mengoreksi diri untuk mencapai taraf pemahaman yang lebih dewasa (Mündigkeit). Kritik Jürgen Habermas atas modernitas ini sangat membantu bangsa Indonesia yang tengah mengalami modernisasi dalam membentuk jati diri manusianya. Ada tiga hal yang dapat dipelajari dari kritik Habermas atas modernitas yaitu (1) pengakuan akan subjektivitas dan relasi intersubjektivitas, (2) tindakan yang didasarkan pada rasionalitas komunikatif, dan (3) refleksivitas yang mengaitkan antara teori dan praksis 
Institution Info

INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO