DETAIL DOCUMENT
Konflik Antarumat Beragama di Indonesia dan Penghayatan Pancasila sebagai Solusi
Total View This Week0
Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
DJO, Servinus Januarius
Subject
200 Agama 
Datestamp
2022-11-22 04:31:51 
Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan dan menjelaskan konflik antarumat beragama di Indonesia, dan (2) mendeskripsikan penghayatan akan Pancasila sebagai solusi untuk mengatasi konflik antarumat beragama di Indonesia. Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode kepustakaan. Penulis menggunakan sumber-sumber seperti buku-buku, artikel-artikel, dokumen-dokumen, manuskrip dan sumber dari internet. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikatakan bahwa konflik antarumat beragama merupakan akibat dari sikap ekslusivisme agama. Eksklusivisme agama merupakan tingkat pengagungan tertinggi mengenai superioritas dari agama tertentu. Pengagungan terjadi manakala sekelompok penganut agama hanya memperhatikan diri dan membangun sikap eksklusif dan tidak mengakui kehadiran agama lain. Kelompok yang eksklusif ini tidak mengakui adanya pluralitas sebab menurutnya agama lain tidak berhak memperoleh perlakuan yang sama. Eksklusivitas dan semangat membela kelompok menghalangi penghargaan terhadap keberadaan kelompok lain dalam kehidupan berbangsa. Sikap eksklusivisme agama dan sikap curiga terhadap agama lain, serta dipengaruhi oleh interpretasi teks suci yang tidak kontekstual ini menjadi pemicu pecahnya konflik antarumat beragama. Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan eksklusivisme agama maka setiap umat beragama mesti menghayati secara benar nilai yang terkandung pada Pancasila. Nilai-nilai seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permufakatan dan keadilan menjadi landasan pijak bagi umat beragama dalam membangun integritas bangsa, sehingga negara tetap bersatu dan utuh dalam keberagamannya. Penyelesaian konflik antaragama dalam Pancasila dapat berupa dua hal yakni membentuk ideologi bersama dan membangun praksis toleransi. Ideologi dan praksis yang bersumber pada Pancasila dapat menjadi senjata dalam membongkar dogmatisme agama. Konsekuensinya, Pancasila membentuk inklusivitas dan membantu individu untuk membuka diri terhadap agama dan ajaran iman yang lain. Sebagai langkah lanjutan untuk menyelesaikan konflik ini, maka diperlukan suatu model pendidikan yang berdasar pada Pancasila. Prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan mufakat serta keadilan harus ditanamkan ke dalam diri anak sejak dini. Sebagai langkah lanjutan, maka dibutuhkan dialog antaragama. Dialog tersebut dapat dikelompokan ke dalam tiga wilayah, yakni dialog dengan agama-agama Abrahamistik, dialog dengan ajaran Hinduisme, Budhisme dan Tionghoa, serta dialog dengan kepercayaan asli. Dialog tersebut bertujuan untuk menemukan bahasa bersama dan membuka diri terhadap inti ajaran agama lain. Dialog, dengan demikian menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan untuk meretas konflik antaragama yang kerap terjadi di Indonesia. 
Institution Info

INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO