Institusion
INSTITUT FILSAFAT DAN TEKNOLOGI KREATIF LEDALERO
Author
SIKU, Fransiskus Hardiyoman
Subject
253 Kantor dan pekerjaan pastoral (teologi pastoral)
Datestamp
2022-12-02 01:13:46
Abstract :
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menyadarkan masyarakat Hubin akan pentingnya
makna dalam upacara Tung Piong sebagai suatu sarana pelestarian budaya daerah di
kabupaten Sikka. (2) Menjelaskan kehidupan Menggereja Masyarakat Hubin. (3)
Menjelaskan Relevansi Pastoral Tung Piong di Hubin.
Penulis menggunakan metode studi kepustakaan dan wawancara. Sumber data utama
dalam penelitian ini adalah buku Pesona Sikka: Deskripsi Sepuluh Objek Wisata Budaya.
Dalam menjalankan penelitian ini, teknik yang digunakan yaitu Pertama, menelaah beberapa
sumber kepustakaan yang membantu penulis dalam menganalisa topik seputar Perbandingan
antara Watu Mahe dalam upacara Tung Piong dan Altar dalam perayaan ekaristi gereja
Katolik. Kedua, melakukan wawancara dengan semua sumber yang telah dihubungi.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa upacara Tung Piong merupakan
bentuk pemujaan sekaligus penghormatan terhadap para leluhur sekaligus Wujud Tertinggi
yang dalam bahasa etnis sikka krowe disebut Ina Nian Tana Wawa, Ama Lero Wulan Reta.
Hal ini dapat dibuktikan melalui tradisi dan kepercayaan masyarakat Hubin dalam menggelar
upacara Tung Piong di Mahe Udek Rang atas kepercayaan masyarakat setempat akan
perlindungan dari marabahaya, wabah penyakit serta usaha dan kerja keras masyarakat dalam
memajukan masyarakat Hubin oleh para leluhur sekaligus wujud tertinggi yang di percaya.
Upacara Tung Piong berusaha mempertahankan eksistensinya dari segala kemajuan teknologi
sekaligus Agama yang dianut oleh masyarakat setempat sebagai sarana memperbaharui iman
dan kepercayaan akan Yesus Kristus sebagai Juruselamat umat manusia. Di satu pihak
gambaran mengenai kehidupan menggereja masyarakat Hubin dan cara berpastoral yang
perlu diterapkan oleh Gereja. Dalam konteks agama katolik nilai-nilai baik yang tertanam
dalam upacara Tung Piong perlu dipakai oleh gereja katolik sebagai sarana dalam
mengembangkan katekese umat sekaligus menghayati Wujud Tertinggi sebagai pencipta dan
penggerak seluruh tatanan kehidupan manusia. Melalui nilai-nilai baik yang hadir dalam
perayaan ekaristi gereja katolik mampu menggerakkan iman umat masyarakat Hubin dengan
menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai anggota gereja sekaligus menghayati
makna dan arti terdalam dari perayaan ekaristi. Karena itu, apresiasi terhadap tradisi lisan
dalam lintas budaya dalam praktek upacara Tung Piong mampu membuka wawasan berpikir
sekaligus dapat melestarikan kebudayaan daerah Sikka.