Abstract :
Penelitian ini bertujuan (1) menggali dan menelaah pesan-pesan tentang
hidup persaudaraan dalam ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus, (2) meneliti
peribahasa-peribahasa orang Ngadha tentang hidup persaudaraan dan (3) membaca
ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus dari perspektif peribahasa orang Ngadha
tentang hidup persaudaraan.
Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan
wawancara langsung pada narasumber. Objek yang diteliti adalah pesan-pesan dan
nilai hidup persaudaraan yang terdapat dalam ensiklik Fratelli Tutti Paus Fransiskus.
Penulis berusaha menelusuri keseluruhan naskah dengan melihat kata atau kalimat
yang berkaitan dengan hidup persaudaraan dalam ensiklik ini. Penulis melihat bahwa
sumber data utama dalam karya ilmiah ini adalah ensiklik Fratelli Tutti Paus
Fransiskus dan juga narasumber yang diwawancarai oleh penulis. Semua data ini
dikumpulkan dan dianalisis sesuai dengan maksud dan persoalan utama karya ilmiah
ini.
Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyimpulkan bahwa ensiklik Fratelli
Tutti Paus Fransiskus memiliki pesan-pesan yang bisa dibaca dari perspektif pata
dela orang Ngadha. Ada beberapa poin yang ditemukan oleh penulis. Dalam
peribahasa modhe ne?e hoga woe meku ne?e doa delu ditemukan suatu ajakan untuk
menjalin suatu relasi yang terbuka dengan siapa saja tanpa membuat perbedaan
latarbelakang suku, agama, golongan dan ras. Orang Ngadha yang sebagain besar
beragama katolik diundang untuk membangun persaudaraan universal dengan berlaku
baik dan lemah lembut kepada siapapun. Prinsip ini sangat ditekankan oleh Paus
Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti.
Dalam upaya mengembangkan persaudaraan universal itu dibutuhkan suatu
sikap berbela rasa dan solider terhadap satu sama lain. Pokok ini bisa dimengerti
sebagai sikap saling tolong-menolong satu sama lain. Para leluhur Ngadha sudah
mewariskan kebajikan ini dalam ungkapan, su?u papa suru sa?a papa laka. Ungkapan
ini mengekpresikan prinsip kerja sama dan gotong-royong demi mengatasi beban dan
kesulitan bersama. Paus Fransiskus dalam ensikllik Fratelli tutti mengajak semua
orang dari pelbagai latarbelakang untuk menolong mengatasi kesulitan yang sedang
dihadapi di dunia. Hanya dengan kesadaran untuk membantu dan membela saudarasaudara
yang lemah, maka dunia yang harmonis dapat tercipta untuk semua.
Selanjutnya dalam ungkapan papa po dia papa bhoko pasu ma?e nau ngia
ma?e kapa terdapat ajakan untuk saling memberi teguran dan nasihat secara terbuka
sambil tetap memperhatikan agar kebenaran dijaga dan dibela secara bersama. Sikap
yang tepat adalah menerima keberadaan orang lain apa adanya, dan tidak ada orang
yang merasa diasingkan atau ditinggalkan apalagi dibuang. Semuanya hadir sebagai
saudara yang sederajat, yang layak untuk berkumpul bersama dalam rumah adat yang
sama. Pesan ini tentu saja sejalan dengan ajakan Paus Fransiskus untuk menerima
orang-orang yang terlempar dari kampung halaman atau negaranya, karena kondisi
tertentu. Mereka yang adalah para migran perlu diperhatikan dengan baik dan
bukannya dibuang apalagi dibenci dan diperlakukan secara tidak adil.
Sikap yang benar berhadapan dengan kaum migran, terutama dalam
membangun persaudaraan yang sejati adalah menghindari sikap menjelek-jelekkan
orang lain dan menyebarkan kebohongan. Orang Ngadha mengenalnya dalam
larangan bela ma?e deke mote ma?e ngadho. Tentu saja peribahasa ini bertujuan agar
orang tidak terbiasa untuk memburukan nama orang lain atau menghabiskan
waktunya hanya untuk hal-hal yang tidak membangun persaudaraan.semua mesti
berusaha agar kehidupan bersama menjadi lebih kondusif dengan menyebarkan apa
yang baik dan berguna.
Akhirnya, Paus Frannsiskus lewat ensiklik Fratelli Tutti mengimpikan dunia
yang bersatu dan terjalin dalam kerja sama yang erat demi membela nilai-nilai
kehidupan di dunia ini. Umat manusia perlu bekerja sama menentang individualisme,
konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Semua hal ini hanya bisa diatasi kalau
umat manusia bersatu. Ajakan ini sejatinya sudah dikenal oleh orang Ngadha dalam
peribahasa kolo setoko aze setebu. Semua perlu bersatu dalam satu simpul dan pokok
yang sama, yakni membela kemanusiaan yang sedang diancam oleh pelbagai hal
yang merusak dewasa ini.