Abstract :
Penulisan tesis ini menggunakan dua metode, yakni studi kepustakaan dan studi
lapangan. Dalam menggunakan studi kepustakaan, penulis mendalami berbagai karya
terdahulu tentang tema yang diangkat. Sedangkan dalam studi lapangan, penulis terjun,
mengumpulkan, dan kemudian menganalisis data yang diperoleh tentang kehidupan
para pemulung. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data dan informasi
adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik terjun, wawancara, dan studi
dokumen. Subjek yang diteliti adalah KPW 20, Kelompok Pemulung Watuwoga 2020.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pertama, Para
pemulung yang bersatu dalam Kelompok Pemulung Watuwoga 2020 atau KPW 20
yang beranggotakan 15 pemulung adalah kelompok orang miskin. Sebagai kelompok
orang miskin, beberapa jenis kemiskinan yang dialami oleh para pemulung adalah
kemiskinan mutlak, kemiskinan relatif, dan kemiskinan struktural. Situasi kemiskinan
mutlak nampak dalam keadaan pendidikan yang terbatas (53,4 % hanya menamatkan
pendidikan di bangku SD, 33,4 % tidak sekolah), keterbatasan akan konsumsi makanan
yang sehat (80% jarang 1-3 kali dalam sepekan), keadaan rumah (53% berlantai tanah),
ketersediaan air bersih (Air dibeli pada tanki 60%), Frekuensi makan dalam sehari
(60% hanya makan dua kali dalam sehari), Pengobatan terhadap keluarga yang sakit
(53,3% berobat di rumah) pendapatan pemulung (53,4% berkisar 150-500 ribu per
bulan). Beberapa kenyataan di atas menjadi indikator yang menjelaskan bahwa para
pemulung adalah sekelompok orang yang miskin mutlak. Situasi kemiskinan relatif
tergambar oleh karena kurangnya perhatian pemerintah Kabupaten Sikka terhadap
keberadaan para pemulung. Sedangkan, kemiskinan struktural yang dialami oleh para
pemulung lebih disebabkan oleh karena pemiskinan yang dialami. Secara sosial,
sebagai kelompok minoritas, kemiskinan yang dialami turut menciptakan ruang antara
para pemulung dan masyarakat lainnya. Kehidupan para pemulung juga
terdisikriminasi oleh pengalaman selama pandemi covid-19. Para pemulung dianggap
sebagai kelompok orang-orang yang bau, jorok, dan menjijikkan. Pengalaman
diskriminasi juga dialami oleh para pemulung dalam kaitannya dengan harga barang.
Terdapat penuruan harga barang pada sebelum dan sesudah pandemi (mis. Harga dos
sebelum pandemi 1000 rupiah, selama pandemi 700 rupiah). Pengalaman-pengalaman
di atas ingin menjelaskan bahwa kemiskinan yang dialami oleh para pemulung tidak
hanya berdampak pada kehidupan ekonomi mereka, melainkan juga berdampak pada
kehidupan sosial.
Kedua, selain hidup sebagai warga masyarakat Kolisia, Magepanda, Sikka, para
pemulung adalah umat paroki Sta. Maria Magdalena Nangahure. Sebagai umat paroki,
mereka diwajibkan untuk melaksanakan kewajiban dari paroki. Sebaliknya, para
pemulung belum dikenal oleh para pastor yang bertugas di paroki Nangahure.
Terhadap realitas ini, bagaimana konsep option for the poor direfleksikan?
Merefleksikan konsep option for the poor adalah upaya Gereja meneladani solidaritas
Yesus dengan orang miskin dan tertindas. Dengan berpihak kepada orang miskin dan
tertindas, Gereja sedang ambil bagian dalam upaya menghidupi semangat Yesus yang
mau hidup sebagai orang miskin dan hidup untuk orang miskin. Gereja berpihak
kepada orang miskin dan tertindas oleh karena pengalaman diskriminasi yang kerap
menjadi bagian dari kehidupan kaum minoritas. Keberpihakan Gereja lebih disebabkan
oleh perjuangan Gereja dalam upaya mengungkapkan bahwa setiap pribadi memiliki
martabat yang sama di hadapan Allah. Seraya memperjuangkan persamaan martabat,
option for the poor juga menjadi upaya Gereja menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah
di tengah dunia. Dalam konteks Gereja lokal, upaya berpihak kepada para pemulung
adalah upaya Gereja lokal mengungkapkan situasi yang dialami oleh para pemulung
dan olehnya secara kolektif mengusahakan perubahan bagi kehidupan para pemulung.
Secara praktis, konsep option for the poor dalam konteks Gereja lokal dapat
dilaksanakan melalui upaya Gereja untuk mau terlibat pada beragam situasi umat.
Sebagai langkah awal, kemauan Gereja lokal untuk keluar dan menjumpai beragam
situasi umat dapat menjadi satu bagian penting dalam menghidupi kata-kata Paus
Fransiskus pada ensiklik Evangelii Gaudium yang lebih menyukai gereja yang kotor,
memar, terluka, karena telah keluar ke jalan-jalan. Dengan keluar dan mengalami
realitas kehidupan para pemulung, Gereja lokal sebenarnya sedang berusaha
mengungkapkan keberadaan para pemulung dan mengusahakan hidupnya nilai-nilai
Kerajaan Allah dalam tindakan nyata. Panggilan untuk berpihak kepada orang miskin
dan tertindas dalam konteks lokal dapat diusahakan secara berkelanjutan, dalam arti
setelah terjun dan mengalami situasi kemiskinan para pemulung, Gereja lokal dapat
secara berkala mengadakan kunjungan kepada para pemulung, sambil mengupayakan
pemetaan terhadap kebutuhan hidup mereka. Pemetaan bertujuan untuk mengupayakan