Abstract :
ABSTRAK
Penelitian berjudul ?Kebertahanan Kentrung dalam Kehidupan
Masyarakat Jepara?, bertujuan untuk menggali elemen-elemen yang
membuat kentrung dapat bertahan di dalam kehidupan masyarakat di
Jepara, yang sarat dengan atmosfer industrial. Kebertahanan ini tidak
luput dari dukungan wong lawas, yang memiliki keyakinan kuat akan
mitos dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhurnya. Di samping
mitos dan wong lawas, kebertahanan kentrung ditopang oleh dalang
kentrung dan ritual-ritual yang mempersyaratkan pertunjukan kentrung.
Terkait dengan mitos, adanya nilai-nilai luhur yang meliputi laku prihatin,
breh, dan narima tergambar jelas dalam bait-bait ceritera dalam
pertunjukan kentrung. Pendekatan etnoart, menjadi alat utama dalam
penelitian ini, guna menggali pandangan emik dari para pelaku dan
masyarakat terkait dengan keberadaan dan ekspresi dalam pertunjukan
kentrung di Jepara, penggunaannya didukung oleh teori The Sacred Emile
Durkheim, Strukturalisme Lévi Strauss, dan Hermenutika Wilhelm
Dilthey.
Teori The Sacred memungkinkan peneliti untuk mengurai pilarpilar
penopang kebertahanan kentrung, karena di dalam kehidupan wong
lawas terdapat mitos yang diyakini sebagai kekuatan suci. Teori
Strukturalisme Lévi Strauss digunakan untuk menjabarkan deep structure
yang terdapatdalam sistem nalar dan nilai wong lawas yang tercermin
pada bait-bait ceritera dalam pertunjukan kentrung. Strukturalisme Lévi
Strauss dipadukan dengan teori Hermeneutika Dilthey, maka akan dapat
mengungkap makna dari struktur mitos. Penggunaan teori Hermeneutika
Dilthey, pada dasarnya melakukan penafsiran terhadap informasi tentang
pemaknaan mitos atas dasar pengalaman dan pemahaman para pelaku
budaya itu sendiri.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa, kontribusi kentrung sangat
besar untuk mempertahankan nilai-nilai kelawasan dalam kehidupan. Hal
ini tidak luput dari peran dalang dan wong lawas sebagai pemangku dan
pewaris budaya nenek moyang di masa lampau. Kuasa modal budaya
kentrung terpatri dalam struktur nalar dan nilai yang dipegang kuat
sebagai pedoman hidup oleh wong lawas dan para dalang. Dengan
kuatnya nalar dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang terkandung ?laku
prihatin, brèh, dan narima?dalam ceritera, kentrung dapat bertahan dan
masih dinikmati hingga kini, baik oleh wong lawasmaupun masyarakat
Jepara secara lebih luas.
Kata kunci: kebertahanan, kentrung, wong lawas, mitos, nilai-nilai
kehidupan