Abstract :
Sinopsis
Jar berakar di Pasar Gede. Sejak kecil sering ikut bapaknya
mencari penghasilan sehari-hari di sana. Kini Jar bekerja di kios
buah, Aning kakaknya jualan dawet, meneruskan usaha
mbokdenya yang sudah pensiun dan lebih banyak mengasuh anak
Aning. Kenthus si preman lokal yang sudah sakit-sakitan tetap
saja mengutip uang dari pedagang, dan tak seorangpun
menolaknya. Mbah Rebo batuknya makin menjadi-jadi tapi tak
pernah pulang ke asalnya. Ada mbah Semar yang sabar menunggu
pelanggannya untuk dipijat di lapaknya di belakang pasar.
Ketika masih bocah Jar sering bertemu Mel, anak
perempuan Papah yang punya kios kue-kue kering. Mereka
bertemu lagi karena Mel membutuhkan bantuan Jar untuk
menyelesaikan tesisnya. Papah terusik dengan kedekatan mereka
kembali. Jar hanya mengalir, tak mempersoalkan pandangan
orang lain. Berbeda dengan Aning yang justru selalu sarkas. Jika
orang lain memberi uang Kenthus dengan ikhlas dan secepatnya,
Aning yang hidupnya ruwet, selalu sengak ketika menghadapi
Kenthus. Kenthus terbebani, tapi sebagai jagoan tentu tak sertamerta
dia akui kelemahannya.
Meskipun begitu, persoalan persoalan itupun kemudian
larut begitu saja atau terurai dengan sendirinya melalui proses
kontemplasi pada setiap tokohnya dengan caranya masing-masing
dalam memahami persoalan yang dihadapi. Muaranya mereka
semua berada di pasar untuk merayakan kebhinekaan hidup
bersama.