Abstract :
ABSTRAK
Penelitian ?Keramik Takalar Kesinambungan, Perubahan, dan
Model Pengembangannya? didorong oleh keinginan untuk mengkaji
keberadaan dan kesinambungan keramik di Takalar yang telah
berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian kehidupan sosial
budaya masyarakatnya. Awalnya keramik untuk peralatan masak
memasak, namun sejak tahun 1980-an mulai terjadi perubahan,
khususnya dalam aspek desain. Berbagai model pengembangan pernah
diterapkan oleh perajin dan pihak eksternal, namun perubahan desain
masih terkesan lambat. Tujuan penelitian menjelaskan kesinambungan,
ragam bentuk, serta perubahan desain keramik sejak tahun 1981 hingga
tahun 2015. Tujuan lainnya menjelaskan model pengembangan yang
pernah diterapkan, lalu membuat konsep pengembangan alternatif.
Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif pendekatan multidisiplin.
Lokasi penelitian terbagi tiga kecamatan, dengan lokasi sentra di Sandi,
Pabbatangan, dan Pakalli. Sumber data produk keramik dari tahun 1981
sampai tahun 2015, tokoh perajin, pakar, konsumen, dan sumber pustaka.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi produk,
pengamatan, observasi, dan studi pustaka. Teknik analisis data interaktif
sistem alur (Miles dan Hubermen).
Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan bentuk sejak
tahun 1980-an, dengan adanya kursi dan guci, perajin keramik untuk alat
masak memasak banyak beralih menjadi perajin kursi keramik, klasifikasi
bentuk terbagi tiga, tradisional (1981-1990) cirinya bentuk tanpa kaki,
sederhana dan warna asli tanah, untuk alat masak memasak, hiasan
geometris teknik enggobe, transisi (1991-2000) cirinya kursi cembung dan
cekung, guci dengan struktur lengkap, pot bunga sedang yang telah dicat
dan difinishing, dan modern (2001-2015) bentuk kursi lebih variatif, guci
lebih ramping dan ukuran lebih beragam, teknik hias tempel, krawang,
dan cat srutul. Aspek sosial budaya masyarakat perajin lebih cenderung
menunjang keberadaan dan kesinambungan bentuk keramik tradisional,
sedangkan perubahan desain disebabkan oleh dorongan internal perajin
dan bersikap terbuka terhadap pihak eksternal seperti Disperindag,
perguruan tinggi, dan konsumen. Pihak eksternal memperkenalkan
bentuk dan nilai baru, termasuk budaya luar, membimbing, dan
mempengaruhi perajin agar mengembangkan desain. Proses dan model
pengembangan selama tiga dekade dikonstruksi menjadi sebuah model
pengembangan berbasis pendekatan desain, Model tersebut dapat
diterapkan secara fleksibel oleh internal perajin maupun pihak eksternal
yang akan melakukan pembinaan dan pendampingan.
Kata Kunci: Keberadaan Keramik, Perubahan Desain, Model
Pengembangan